BETANEWS.ID, KUDUS – Dua orang pria dan wanita terlihat berbagi peran di Outlet Serabi Inggris Solo di Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Jika sang wanita membuat adonan hingga memasak, maka sang pria melayani pembeli yangd atang silih berganti. Mereka adalah pasangan suami istri, Siti Rukhayah (33) dan Moh Afif Rahman (40), pemilik usaha tersebut.
Di sela-sela melayani pembeli, Rukhayah bersedia berbagi cerita kepada betanews.id soal usaha yang dirintis pada 2005 lalu. Di tempatnya, ia menyediakan banyak varian rasa, mulai cokelat, keju, pisang, kelapa, hingga nangka. Beragamnya pilihan rasa itu menjadikan banyak kalangan suka dengan jajanan berbahan tepung, telur, dan santan itu.
Yang membuat outletnya itu laris, ia menjual serabi dengan harga Rp2 ribu. Meskipun begitu, Rukhayah tetap menggunakan bahan baku yang berkualitas sehingga cita rasanya tetap terjaga meski sudah berdiri bertahun-tahun. Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 1,5 kilogram adonan serabi.
Baca juga: Wonton Chili Oil di Getas Pejaten Ini Cocok Bagi Penyuka Pedas, Isian Dagingnya Banyak
“Untuk harga masih terjangkau Rp2 ribu untuk semua varian rasa. Biasanya kalau ramai bisa habis 150 serabi, jadi pendapatannya sekitar Rp300 ribu,” tutur perempuan asal Kaliputu itu, Sabtu (9/12/2023)
Menurutnya, usaha tersebut dulunya merupakan milik bosnya yang berasal dari Purwodadi. Waktu itu, outlet serabi inggris solo bertempat di Selatan Matahari Kudus.
“Dulu sempat tutup karena tidak ada karyawan. Karena melihat situasi itu, tahun 2011 setelah saya menikah, saya coba nego dengan bos saya untuk membuka usaha serabi inggris solo lagi di sana, akhirnya diperbolehkan,” ujarnya.
Baca juga: Kreatif!! Mahasiswi Kudus Ini Berhasil Inovasikan Bolen Jenang Jadi Produk Berkelas
Setelah membuka serabi inggris solo di dekat Matahari, Rukhayah ingin memperluas usahanya tersebut dengan membuka cabang di perempatan sucen, dan hingga kini masih berjalan.
“Selama merintis usaha selalu tidak berjalan lancar, ada kalanya merasa terpuruk. Pas covid-19 menjadi pengalaman yang cukup buruk karena sepi banget,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

