KPU Kudus Gelar Simulasi Pemilu di Daerah Pegunungan, Ternyata Ini Alasannya

BETANEWS.ID, KUDUS – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus menggelar simulasi pemungutan dan perhitungan suara di daerah pegunungan yang dianggap kurang sinyal. Hal itu bertujuan untuk mengetahui secara pasti bagaimana pelaksanaan Pemilu 2024 di daerah pedesaan yang jauh dari perkotaan.

Komisioner KPU Kudus Divisi Teknis Penyelenggaraan, Ahmad Kholil, mengatakan, simulasi pemungutan dan penghitungan suara di Desa Japan, Kecamatan Dawe itu merupakan kali kedua setelah di SMKN 1 Kudus atau di perkotaan, Minggu (24/12/2023).

“Jadi dalam kegiatan simulasi pemungutan dan perhitungan suara di TPS riil, di mana dalam simulasi ini dikondisikan seperti Pemilu nanti pada 14 Februari 2024,” kata pria yang akrab disapa Alan itu di aula Balai Desa Japan, Rabu (31/1/2024).

-Advertisement-

Baca juga: Dijadikan Tempat Simulasi Pencoblosan, Ini Alasan KPU Pati Pilih Desa Geritan

Alan menjelaskan, dipilihnya Desa Japan untuk mengetahui bagaimana kondisivitas wilayah, partisipasi masyarakat, dan paling utama adalah pengecekan sinyal di daerah pinggiran. Sebab, pemungutan dan perhitungan suara nantinya akan menggunakan aplikasi Sirekap.

“Sehingga, pengecekan sinyal di beberapa tempat di Kudus, termasuk di Desa Japan ini juga diperlukan, agar kita dapat mengetahui bagaimana kondisi saat Pemilu berlangsung nantinya,” ungkapnya.

Simulasi tersebut, katanya, mengambil di tempat pemungutan suara (TPS 9) di Desa Japan yang memiliki daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 252 pemilih. Menurutnya, di TPS 9 tersebut tidak ada pemilih disabilitas, tapi ada pemilih pindahan atau masuk dalam katagori daftar pemilih tambahan (DPTb).

Alan menyebut, kegiatan yang dilakukan itu juga dapat memberikan informasi secara langsung bagaimana pelaksanaan Pemilu 2024 berlangsung. Selain itu, KPPS, PPS, PPK, hingga Rantip dapat melihat secara langsung proses pemungutan suara.

Baca juga: Diguyur Hujan Saat Simulasi, Ini Strategi KPU Demak Amankan Logistik Pemilu

“Sekaligus dapat melihat secara langsung proses pemungutan suara, sehingga mereka mendapat pengetahuan tidak hanya teori saja, tapi praktik secara langsung. Semua proses dapat dilihat secara transparan,” jelasnya.

Sementara perhitungan yang akan dilakukan, mencoba menghitung surat suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (PPWP) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Lantaran simulasi pertama dilakukan perhitungan DPR RI dan DPRD Provinsi.

“Perhitungan ini untuk mengetahui estimasi waktunya, sehingga nanti kita bisa mengetahui estimasi waktu yang dibutuhkan dalam perhitungan setiap surat suara dan sebagai patokan,” tuturnya.

Alan menambahkan, antusiasme masyarakat dalam simulasi yang digelar tersebut sangat bagus sekali. Bahkan menurutnya, partisipasi masyarakat Desa Japan lebih bagus dari pada saat simulasi pertama.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER