Hal Mistis Jadi Hambatan Pembangunan Jembatan Genderuwo Banjarsari Demak

BETANEWS.ID, DEMAK – Jika dilihat secara kasat mata, jembatan kayu penghubung antar dukuh di Desa Banjarsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak terlihat biasa saja. Akan tetapi, di balik itu terdapat mitos yang kuat dan diyakini masyarakat yang membuat jembatan kayu tersebut tak berubah bentuk beberapa tahun terakhir.

Jembatan dengan panjang 35 meter dan lebar 3 meter itu terletak di antara tambak-tambak milik warga dan sungai besar. Konon, masyarakat mempercayai terdapat penghuni yang jahil dan suka mengganggu siapa saja yang melintasi area tersebut. Sehingga, masyarakat menjulukinya dengan sebutan jembatan genderuwo.

Baca Juga: Tenaga Listrik Hybrid Bantu Penerangan Jalan Desa Banjarsari Demak

-Advertisement-

Kuatnya mitos masyarakat ternyata tidak hanya menjadi ketakutan biasa, melainkan juga menjadi penghalang proses pembangunan jalan utama untuk akses tiga dukuh atau sekitar 1500 jiwa yang tinggal di sana, yaitu Dukuh Dombo, Dukuh Karangsambung, dan Dukuh Mojo ketika menuju pusat Desa Banjarsari.

“Itu sudah lama, mungkin sudah ganti lima kepala desa sampai tidak berani membangun jembatan dan itu tidak terjamah,” kata Kepala Desa Banjarsari Hariyanto, Senin (18/12/2023).

Menurut Hariyanto, sampai sekarang pemerintah desa hanya berani melakukan perbaikan kecil yang dilakukan setiap tahunnya, seperti menambal kerusakan dan penggantian kayu yang rusak karena lapuk.

“Kami hanya perbaikan kecil-kecilan tambal sulam. Kami anggarkan Rp10 juta setiap tahun,” ujarnya.

Secara kasat mata, jembatan gendruwo memiliki tekstur lintasan yang tidak rata. Selain itu, minimnya penerangan dan tikungan yang tajam membut pengendara harus memelankan lajunya.

Hingga sekarang, hanya kendaraan roda dua saja yang bisa melewati jembatan itu. Sedangkan kendaraan roda empat yang berada di tiga dukuh jembatan gendruwo, harus memutar arah ke pantura terlebih dahulu untuk sampai ke balai desa.

“Misalkan trek mau ke situ, kalau mau beli dilansir dari Surodadi kan jauh dan membengkak. Sehingga biaya ke Banjarsari dua kali lipat, soalnya harga padas di luar Rp500 ribu, di sini jadi Rp1 juta, karena harus muter lewat desa-desa tetangga,” terangnya.

Baca Juga: Desa Banjarsari Demak Manfaatkan Listrik Tenaga Hybrid

Meskipun begitu, Haryanto bertekad untuk bisa membuat jembatan gendruwo agar layak dilalui. Sehingga, masyarakat tidak kesulitan lagi untuk pergi ke pusat Desa Banjarsari.

“Jadi itu PR nanti mau tak bangun masak urusan seperti itu tidak bisa dirembuk. Ketika ini tidak dibangun mau tidak mau banjarsari ketertinggalan, karena kita tidak punya akses jalan utama warga kami menuju balai desa itu tidak ada,” paparnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER