31 C
Kudus
Kamis, Februari 29, 2024

Tak Hanya Rusak Lingkungan, Tambak Udang Karimunjawa juga Rusak Hubungan Kekeluargaan

BETANEWS.ID, JEPARA – Tambak udang yang berada di Desa Karimunjawa dan Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara sudah beroperasi sejak tahun 2018.

Pada tanggal 25 September 2020, warga Legon Nipah Rt 03/Rw 01, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa ternyata pernah membuat surat perjanjian dengan pemilik tambak udang agar mengurus perijinan dan membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang menyebabkan pencemaran di area mangrove dan laut.

Baca Juga: Pesisir Pantai Legon Pinggir Karimunjawa Tercemar Limbah Tambak Udang

Namun menurut Surokim (45), warga desa setempat yang juga turut menjadi saksi perjanjian tersebut mengatakan bahwa sampai sekarang para petambak juga tidak membuat IPAL bagi tambak udangnya. Bahkan akibat perjanjian yang tidak ditepati oleh para petambak, hubungan antara ia dan keluarganya menjadi tidak harmonis.

“Jadi asalnya muncul surat ini gara-gara kita demo, pertama karena lumut sudah berkelian dia tidak bertanggungjawab kita minta untuk bersihin lumutnya. Kedua warga sini dulu hanya nonton nggak ada yang diajak kerja, akhirnya dia mau untuk bikin perjanjian ini,” ujarnya pada Betanews.id, Minggu (24/9/2023) di Legon Nipah, Dusun Merican, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa.

Dalam surat perjanjian tersebut berisi tiga hal, yaitu pertama, pihak kedua (pemilik tambak) bersedia membersihkan limbah secepatnya yang mencemari lingkungan mangrove dan laut.

Kedua, pihak kedua menghentikan segala aktivitas tambak udang selama empat bulan terhitung mulai tanggal 25 September 2020 – 25 Januari 2021.

Ketiga, apabila kesepakatan tersebut dilanggar maka pihak kedua siap menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku dan diteruskan ke pihak yang berwajib.

Dalam surat tersebut juga tertuliskan nama, tanda tangan, serta stempel dari Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah II Karimunjawa.

Surokim bercerita bahwa setelah adanya surat perjanjian, ia sempat ditawari oleh pemilik tambak agar menghentikan surat perjanjian tersebut dengan imbalan berupa gaji Rp10 juta per bulan untuk mengelola tambak udang.

Baca Juga: Pesisir Karimunjawa Rusak, Ternyata Ini Penyebabnya

Namun ia menolak tawaran tersebut karena sudah geram dengan dampak dari limbak tambak udang yang merusak lingkungan. Bapaknya yang bernama Sardi, yang juga turut menjadi saksi dalam surat perjanjian tersebut ternyata mengetahui tawaran yang diberikan oleh petambak.

“Bapak saya ternyata denger, dan tergiur untuk ikut usaha tambak. Sudah satu tahun saya nggak diajak ngomong sama bapak, kalau saya panggil ya jawabnya cuma iya, habis itu diem. Sampai saya tanya itu ke guru saya, harus gimana. Karena mau bagaimana itu ya bapak saya,” tuturnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
6,574PengikutMengikuti
129,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER