BETANEWS.ID, JEPARA – Berdasarkan Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, produksi gabah Jepara di 2022 mengalami surplus sebanyak 41,162 ton. Dari data ini, Pemerintah Kabupaten Jepara kemudian membuat program branding beras Jepara melalui “Beras ASN”.
Menanggapi itu, Pemilik UD Dadi Mulyo, Khoirul Amilin, menyebut program tersebut terlalu idealis.
“Ketika hasilnya surplus yang diajak untuk memproduksi ini siapa. Maunya kan untuk menambah nilai plus dari gabah Jepara kan. Tapi siapa yang mau diajak untuk memproduksi,” kata pemilik gilingan padi di Desa Kalipucang Kulon, Kecamatan Welahan itu, Selasa (12/9/2023).
Baca juga: Usaha Penggilingan Beras Jepara Kian Layu, Kebijakan BPNT Jadi Sorotan
Ia menilai, meskipun sudah dibentuk Asosiasi Lumbung Pangan Masyarakat sebagai wadah untuk mengelola hasil gabah para petani, hal tersebut juga tidak cukup kuat untuk mewujudkan program tersebut.
“Ada asosiasi itu modalnya dia darimana? Kalau tidak ada ya sama saja. Tetap tantangannya banyak kalau mau mewujudkan program itu,” tambahnya.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui DKPP saat ini lebih baik fokus untuk meningkatkan produktivitas dari hasil pertanian dan tata cara pengolahan lahan yang lebih maju. Ketika hasil pertanian terutama gabah dapat meningkat, meskipun harga gabah sedang anjlok petani tetap mendapatkan keuntungan.
Baca juga: Berkat Adanya 22 Lumbung Pangan, Stok Beras di Jepara Aman untuk 4 Bulan ke Depan
Terlebih, rata-rata produksi gabah Jepara sekarang menurutnya hanya di kisaran lima ton per satu hektare, sedangkan di daerah lain ada yang sampai 10 ton.
“Kalau misalkan harga gabah Rp5 ribu dengan hasil produksinya 10 ton satu hektare, petani dapat untung Rp50 juta. Daripada harga gabah sekarang Rp7 ribu, tapi produksinya hanya lima ton satu hektare, petani cuma untung Rp 35 juta. Coba petani bakal milih yang mana?” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

