Kisah Dimas Bangkit dari Kena PHK hingga Punya Usaha Keranjang Tombong Beromzet Puluhan Juta Sebulan

BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan tali strapping pet tampak berserakan di teras rumah milik Dimas Rizki (27) di Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo, Kudus. Di sana, ia terlihat lihai menganyam satu persatu tumpukan tali tersebut untuk dijadikan keranjang tombong.

Ditemui di sela-sela menganyam, ia berbagi cerita saat awal mula memilih menekuni usaha orang tuanya itu. Kata Dimas, bisnis anyaman tersebut dibangun oleh orang tuanya sejak 2005. Dimas mengungkapkan, dirinya sudah diajari sang ayah membuat kerajinan anyaman sejak masih Sekolah Dasar (SD).

“Setelah lulus SD saya memilih ambil paket C, itu sekitar 2011. Kemudian setelah lulus 2014, SMA saya ambil kejar paket lagi karena bisa sambil kerja. Jadi siang kerja malamnya sekolah, setiap hari Senin, Selasa dan Rabu,” ucapnya.

-Advertisement-

Baca juga: Bisnis Keranjang Tombong di Mejobo Ini Punya Omzet Belasan Juta Sebulan

Dimas mengaku, jika dirinya sering pindah-pindah tempat kerja karena bosan. Hingga akhirnya di tahun 2018 Dimas menemukan pabrik yang cocok dan serius kerja di sana. Meski sudah menemukan pekerjaan yang cocok, Dimas tetap meluangkan waktu untuk membantu ayahnya memproduksi anyaman.

Namun nahas, kondisi pabrik yang sedang kurang baik di tahun 2020, membuat Dimas harus diputus hubungan kerja (PHK).

“Saya kalau kerja di pabrik suka bosan, jadi sering pindah-pindah. Hingga ketemu yang cocok dan serius kerja di sana, tapi malah kena PHK dan nganggur,” terang Dimas saat ditemui di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Di tengah kejenuhan karena tak kunjung mendapat pekerjaan, ditambah kondisi ayahnya yang semakin menua, membuat Dimas memutuskan untuk berhenti melamar pekerjaan. Dia memilih fokus meneruskan bisnis ayaman orang tuanya itu.

Baca juga: Limbah Garmen Ini Disulap Mulyono Jadi Keranjang Tombong Bernilai Jual Tinggi

“Di tahun pertama awalnya lumayan lancar. Tahun 2022 kemarin, saya sempat berhenti setahun tidak produksi karena bahan-bahannya sulit dan mahal. Selain itu, pemasaran juga menurun. Alhamdulillah tahun 2023 ini mulai kembali lancar dan bisa mepekerjakan satu orang,” ungkapnya.

Di temnpatnya, Dimas menjual satu set keranjang tombong besar dan kecil seharga Rp210 ribu. Kalau satuan harganya Rp130 ribu. Selain membuat keranjang, dia juga membuat tas yang harganya Rp13 ribu.

“Alhamdulillah penjualan sudah sampai ke luar Jawa. Lebih kurang setahun ini, pesanan dari Kalimantan Tengah lancar. Sebulan saya bisa menjual hingga 100 set keranjang. Kalau omzet ya cukup besar, bisa mencapai Rp21 juta. Tapi kalau penghasilan bersih ya sekitar Rp5 juta,” tambahnya.

Penulis: Anita Purnama Sari, Mahasiswa Magang UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER