31 C
Kudus
Selasa, Januari 27, 2026

Butuh 100 Ribu Hektar Lahan Pertanian di Jawa Tengah untuk Penyangga Dampak El Nino

BETANEWS.ID, KUDUS – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyatakan bahwa pemerintah pusat membutuhkan ketersediaan lahan pertanian di Jawa Tengah sebesar 100 ribu hektar sebagai penyangga antisipasi El Nino.

Ia mengatakan hal itu saat mengunjungi panen padi di Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang pada Kamis (27/7/2023). Ia pun mengungkapkan kekagumannya bahwa Kota Semarang memiliki hamparan pertanian yang cukup luas, yakni hampir 1.700 hektar lebih.

Baca Juga: Sekda Jepara Didemo, Pj Bupati Harap Tidak ada ‘Matahari Kembar’

-Advertisement-

Selain itu Syahrul juga merasa lega karena ketersediaan air di Kota Semarang juga masih melimpah. Hal ini menurutnya adalah modal sebagai langkah mempertahankan ketersediaan dan ketahanan pangan oleh pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Syahrul mengungkapkan kesetujuannya atas rencana Pemerintah Kota Semarang menyediakan 1.000 hektar persawahan sebagai antisipasi ancaman cuaca ekstrim.

“Yang menggembirakan dengan ancaman El Nino ternyata air sangat banyak di sini, sungai Bengawan Solo gak surut, sungai Brantas gak surut. Kita berharap El Nino akan lewat. Tentu saja ada dampak, ya tapi kita ada antisipasi,” jelas Syahrul.

Meski secara umum ketahanan pangan di Jawa Tengah terkendali, Syahrul meminta agar pemerintah daerah tidak percaya diri berlebih. Ini karena anomali cuaca yang tidak bisa diprediksi. Menurutnya, bisa jadi pada cuaca panas seperti ini terjadi hujan yang mengakibatkan banjir. Hal tersebut dikawatirkan akan mengakibatkan gagal panen. Oleh karena itu ia menekankan langkah antisipasi yang berlapis.

Sementara Syahrul sendiri belum bisa memberi keterangan di wilayah Jawa Tengah mana yang akan dijadikan titik dari 100 ribu lahan pertanian penyangga antisipasi El Nino. Ia menyatakan pihaknya akan segera menentukan titik-titik tersebut, sebagaimana yang sudah diamanatkan presiden.

Baca Juga: Luar Biasa, di 2023, Gaji Tenaga Honorer Kudus Telan Anggaran Rp 51 M

Syahrul menambahkan, langkah pemenuhan ketahanan pangan di setiap daerah berbeda-beda metode pendekatannya. Ini sebagaimana pembagian zona kerentanan yang berbeda pula. Ia mencontohkan ketersediaan air di zona merah, kuning, hingga hijau disikapi dengan pendekatan dari teknis pengelolaan air hingga intervensi mekanisasi.

Bahkan pihaknya siap untuk melakukan peminjaman modal. Ini karena Kementerian Pertanian sendiri tidak memiliki anggaran untuk menjalankan intervensi mekanisasi tersebut. Menurut Syahrul, investasi bidang pertanian tidak akan rugi.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER