BETANEWS.ID, JEPARA – Tiga buah kain yang dibentangkan pada tiang kayu tampak menghiasi halaman rumah Makrus, Pemilik Batik Pring Suket, Desa Geneng RT 6 RW 1, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara.
Bersama dengan anak sulungnya, Makrus memproduksi berbagai motif batik yang ia ciptakan sendiri dari hasil melihat fenomena maupun kondisi alam yang terjadi di sekitar lingkungannya.

Sambil membuat motif batik moto belong, Makrus bercerita jika awal mula menjadi pembatik karena keyakinannya bahwa batik akan menjadi warisan budaya yang diakui oleh UNESCO. Semangatnya untuk terus membatik kemudian juga tertular kepada dua anaknya yang memiliki hobi menggambar sejak kecil.
Baca juga: Batik Pring Suket, Batik Abstrak yang Punya Warna Ngejreng Ini Jadi Incaran Para ASN
“Dulu pada saat lulus SMP sempet bingung mau pilih jurusan ukir atau batik, tapi karena intuisi bahwa batik akan diakui oleh dunia terutama UNESCO, saya memilih jurusan batik,” katanya pada Betanews.id, Sabtu (8/7/2023).
Batik Pring Suket miliknya itu memiliki motif batik yang abstrak dengan gaya kontemporer serta dipadukan dengan warna-warna yang ngejreng. Menurut Makrus, hal itulah yang membuat batiknya selalu diminati pelanggan terutama anak muda.
“Orang-orang yang suka kekinian, dinamis, itu biasanya suka motif batik buatan kami dan warna-warnanya juga lebih ngejreng daripada batik-batik yang ada di Jepara” kata guru Seni Rupa di SMAN 1 Jepara itu.
Baca juga: Cantiknya Batik Motif Ukir Jepara dari Batik Sekar yang Jadi Oleh-Oleh Favorit Turis Mancanegara
Dalam membuat batik, Makrus selalu mengutamakan nilai dari setiap kain batik. Dalam setiap proses pembuatannya memiliki nilai filosofi yang ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Seperti kain yang akan digunakan untuk membatik ini kan harus dibersihkan dulu dari zat-zat kimia tekstilnya, supaya warnanya nanti bisa melekat di serat kain,” jelasnya.
Menurutnya, meskipun saat ini sudah banyak produksi batik yang menggunakan alat printing, tetapi ia lebih memilih tetap mempertahankan batik tulis, karena bagi Makrus di sinalah value dari sebuah karya batik dapat tercipta.
Editor: Ahmad Muhlisin

