Batik Pring Suket, Batik Abstrak yang Punya Warna Ngejreng Ini Jadi Incaran Para ASN

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat sedang menata beberapa pakaian di loby Citywalk Kudus, Sabtu (10/6/2023). Warna-warnanya yang ngejreng itu banyak menarik para pengunjung yang meramaikan Pameran UMKM Kreatif Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) 2023.

Menurut Makrus, Owner Batik Pring Suket, batik produksinya itu memang sedang banyak dibacarakan, terutama di Jepara. Menurutnya, batik itu merupakan upayanya mengangkat kebudayaan dan kearifan lokal di Jepara. Beberapa motif yang ada di antaranya motif kuliner moto belong, motif kembang duren, motif wedang ronde, motif pesona Karimun Jawa, motif abstrak, dan motif 45 derajat.

“Semua motif yang ada di dalam batik yang saya produksi ini merupakan kearifan lokal Kabupaten Jepara, karena saya ingin mengenalkan kebudayaan dan potensi alamnya,” beber pria yang merintis usaha batik pada 2020 itu.

-Advertisement-

Baca juga: Iskandartext Punya Batik Printing yang Kualitasnya Jempolan, Harganya Ramah Kantong

Berbeda dengan batik pada umumnya, katanya, Batik Pring Suket mengkombinasikan batik tulis (canting), teknik tulis, dan sistem pewarnaan dengan cara dikuasi. Hal itu bertujuan untuk menyuguhkan hasil batik yang kekinian dan berbeda dengan lainnya.

“Untuk kualitas pewarnaan antara batik tulis dengan teknik colet dan pewarnaan dengan dikuas, kualitasnya sama. Namun, keunggulan dengan teknik kuas ini warna bisa kombinasi dan terkadang warna bisa menjadi gradasi. Jadi kesannya lebih eklusif dan beda dengan produk lainnya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, untuk proses produksi batik abstrak kontemporer tersebut membutuhkan kurang lebih empat hari dengan kain batik berukuran 225×115 centimeter. Batik itu kemudian dijadikan  kemeja, topi, eandal, baju perempuan, dan tas.

Baca juga: Cantiknya Batik Motif Ukir Jepara dari Batik Sekar yang Jadi Oleh-Oleh Favorit Turis Mancanegara

“Harga kain batik abstrak yang berukuran 225×115 centimeter Rp350 ribu, topi Rp60 ribu, sendal kemayu Rp120 ribu, tas batik Rp120 ribu, dan batik cap Rp200 ribu,” rinci warga Desa Geneng RT 6 RW 1, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara itu.

Ia menambahkan, dalam satu bulan pihaknya bisa menjual kurang lebih 20 item dari keseluruhan produk yang dimilki. Menurutnya, kebanyakan pembeli datang dari kalangan pengusaha dan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER