BETANEWS.ID, PATI – Panorama langit jingga di wilayah Juwana menjadi obat resah saat tubuh sudah mulai lelah. Panorama jingga dan secangkir kopi racikan warung kopi adalah terapi untuk yang merasa sepi.
Lincak-lincak sederhana di tepi Jalan Manggar, Desa Growong Kidul, Kecamatan Juwana, Pati tersebut penuh oleh cengkrama kaum muda ataupun tua. Suasana semakin hangat ketika saat menjelang senja, panorama langit jingga tampak sempurna di Warung Kopi Ndadah Juwana.
Baca Juga: Sempat Diremehkan, Orek Tempong Buatan Wahyu Kini Go Internasional
Salah satu pengunjung, Fathul Majid (23), mengaku bahwa momen senja memang menjadi favoritnya. Alasan itulah yang membuatnya memilih Warung Kopi Ndadah.
Sembari membersihkan tumpahan opini pengunjung dan sesekali mengantarkan kopi, pria kurus tinggi bernama Edi Lukito, pemilik Warung Kopi Ndadah menceritakan kisah peraduan nafkahnya tersebut.
Ide membuat warung kopi tersebut muncul pada tahun 2015, ketika ia melihat budaya ngopi sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup di Juwana.
“Melihat orang Juwana yang suka nongkrong, membuat saya memberanikan diri memutuskan resign dari pekerjaan sebagai karyawan swasta. Lalu saya buka warung ini. Alhamdulillah sejak dibuka warung ini tidak pernah sepi,” terangnya.
Nama Warung Kopi Ndadah dipilih karena menawarkan pemandangan tambak dan sawah di halaman belakang.
Baca Juga: Puli Klenyam, Kuliner Demak yang Bikin Kangen Warga Perantauan Saat Pulang Kampung
Warung Kopi Ndadah mulai buka pukul 09.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Kopi lelet khas Lasem hingga kini masih menjadi menu favorit para pelanggan. Selain kopi Lasem, tersedia juga berbagai minuman sachet dan makanan ringan yang terpampang di meja.
“Mulai ramai ya sekitar pukul empat sore. Pelanggan kebanyakan pemuda, kadang juga ada yang masih mengenakan seragam kerja. Kalau harga di sini pas lah untuk mereka, karena ramah di kantong,” tambah owner yang memiliki dua karyawan itu.
Penulis: Rinto Febrilian, Mahasiswa Magang UMK
Editor: Haikal Rosyada

