31 C
Kudus
Selasa, Juni 25, 2024

Mengkhidmati Tradisi Grebeg Besar Keraton Solo saat Hari Raya Iduladha

BETANEWS.ID, SOLO – Matahari semakin naik dan memancarkan sinarnya di Masjid Agung Keraton Solo. Para juru sembelih hewan kurban juga tengah sibuk karena jumlah hewan yang cukup banyak. Area pemotongan hewan itu sudah dipenuhi warga yang berjubel di belakang pagar.

Tak lama setelah itu terdengar suara alunan musik yang dimainkan oleh prajurit marching band Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Mereka berjalan menuju Masjid Agung dari Sasana Sewayana, Sitihinggil, dan melewati Alun-Alun Utara.

Keluarga keraton Solo dan abdi dalem mendoakan gunungan dalam Tradisi Grebeg Besar Keraton Solo, Kamis (29/6/2023). Foto: Khalim Mahfur

Di belakang prajurit, terdapat abdi dalem yang memikul dua buah gunungan berukuran cukup besar. Dua gunungan tersebut adalah Gunungan Jaler (laki-laki) dan Gunungan Estri (perempuan). Kirab Tradisi Grebeg Besar itu diikuti 400 orang yang terdiri dari keluarga keraton dan abdi dalem. Mereka tampak mengenakan busana adat Jawa Surakarta dengan atasan berwarna hitam dan kain jarik berwarna cokelat.

-Advertisement-

Baca juga: Kirab Malam Selikuran, Tradisi Keraton Solo yang Sudah Ada Sejak Era Sultan Agung Hanyokrokusumo

Sesampainya di halaman Masjid Agung, kedua gunungan itu langsung diletakkan di halaman masjid sisi Utara dan Selatan. Tak hanya itu saja, abdi dalem juga membawa makanan yang diletakkan di dalam kotak dan ditandu. Makanan tersebut dibawa ke serambi masjid, kemudian akan didoakan oleh abdi dalem.

Setelah gunungan diserahkan kepada pengurus masjid, gunungan Jaler (laki-laki) kemudian diperebutkan oleh masyarakat yang hadir. Secara spontan, mereka langsung berebut untuk mendapatkan isi dari gunungan itu.

Sedangkan, gunungan Estri (perempuan) dibawa kembali ke kawasan keraton untuk diperebutkan di halaman atau di Kori Kamandungan.

Kirab atau Grebeg Besar ini merupakan wujud rasa syukur dari Keraton Kasunanan Surakarta yang digelar setiap bulan Besar (bahasa Jawa) atau Dzulhijjah (bahasa Arab), selain dua grebeg lainnya, yakni Grebeg Pasa (puasa Ramadhan) dan Grebeg Sekaten.

Baca juga: Masjid Agung Keraton Surakarta Simpan Manuskrip Kuno Karya Ulama Indonesia dari Abad 16

“Ini ketiganya adalah merupakan wujud syukurnya keraton, dan kali ini (Grebeg Besar) adalah memperingati Bulan Haji dan grebeg tadi ada simbol, yaitu gunungan,” tutur Ketua Takmir Masjid Agung Keraton Surakarta, Muhtarom.

Dua buah gunungan tersebut juga memiliki makna dan filosofis yang dalam, yakni setiap hal yang ada di alam semesta diciptakan berpasang-pasangan.

“Ada laki-laki dan perempuan, supaya manusia berkembang biak, jadi ada laki-laki dan perempuan,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
140,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER