BETANEWS.ID, SOLO – Sekitar pukul 19.00 WIB, abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berkumpul di Bangsal Sewayana, Sasana, kawasan Sitinggil, Selasa (11/4/2023) malam. Mereka mengenakan busana adat Jawa dengan warna hitam dan putih.
Sebagian dari mereka membawa lampu ting, serta lampion berbentuk bulan, bintang, kaligrafi Allah dan Muhammad, serta logo Keraton Kasunanan Surakarta. Terdapat juga dua buah tumpeng yang diletakkan di dalam kotak kaca berukuran besar. Ada juga puluhan kotak berwarna cokelat berisikan tumpeng berukuran kecil.

Setelah semuanya berkumpul, beberapa sesajen kemudian disiapkan. Abdi dalem berbusana putih kemudian melantunkan pujian-pujian bernuansa Islam-Jawa.
Baca juga: Rangkaian Prosesi Tingalan Jumenengan ke-19 Paku Buwono XIII yang Dihadiri 13 Kerajaan Nusantara
Tak lama setelah itu, pasukan prajurit keraton mulai memainkan musik, pertanda Hajad Dalem Kirab Malam Selikuran segera dimulai. Semua tumpeng kemudian ditandu oleh abdi dalem.
Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwana XIII beserta anggota keluarga keraton lainnya kemudian menuju ke kereta kencana. Kirab kemudian dimulai, dari Alun-Alun Utara menuju ke bundaran Gladag, dan belok menuju ke Taman Sriwedari.
Selama kirab berlangsung, abdi dalem yang mengenakan busana putih terus melantunkan selawat. Prajurit yang memainkan alat musik juga terus beratraksi hingga tiba di Taman Sriwedari.
Setibanya di lokasi, tumpeng yang berjumlah 1.000 buah itu kemudian dibawa ke atas panggung dan didoakan oleh pemuka agama. Tumpeng tersebut berisikan nasi gurih, kedelai hitam, wajik, jadah, dan satu buah cabai hijau yang diletakkan ke dalam wadah yang disebut takir.
Baca juga: Menziarahi Makam B.Ray Sedah Mirah, Selir Paku Buwana IX di Petilasan Keraton Kartasura
Pengageng Parentah Keraton Kasunana Surakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Dipokusumo menerangkan, takir bermakna bahwa sebagai manusia harus tetap takwa dan berzikir selama hidup di dunia.
Sedangkan, jumlah tumpeng sebanyak 1.000 buah melambangkan bahwa di bulan Ramadan umat muslim menanti-nantikan malam Lailatul Qadar, yakni malam seribu bulan.
“Pengertiannya itu juga kaitanya dengan tumpang Sewu, jadi setiap kotak itu isinya tumpeng jumlahnya 25 tadi kan kotaknya 40 jadi 40 dikalikan 25 kan 1.000. Itu yang menyimbolkan makna 1.000 bulan,” tuturnya.
Kirab malam Selikuran ini setidaknya diikuti oleh 1.000 peserta, dari keluarga keraton, sentono dalem, hingga abdi dalem.
Sedangkan, lampu ting dan lampion diartikan sebagai sebuah sinar yang juga memiliki makna spiritual yakni diartikan sebagai pentunjuk bagi para umat Islam.
“Lampu ting itu adalah merupakan sinar yang tentu saja makna spiritual dan pemahaman ini agar dipahami sebagai pengertian malam Lailatul Qadar,” terangnya.
KGPH Dipokusumo menerangkan bahwa tradisi Malam Selikuran ini sudah menjadi tradisi yang turun temurun, sejak era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
“Yang beliau itu adalah piyayi Jawi yang Islami, kemudian yang juga pendirian dari para wali adalah Sunan Kalijaga yang merupakan piyayi Islam yang njawani,” tuturnya.
Acara Hajad Dalem Malam Selikuran ini ditutup dengan tausiyah yang disampaikan oleh ulama ternama asal Lamongan, KH Ahmad Muwafiq, atau lebih dikenal dengan Gus Muwafiq.
Editor: Ahmad Muhlisin

