BETANEWS.ID, DEMAK – Kondisi rob di wilayah Demak menjadi perhatian serius. Tidak hanya di tingkat daerah tapi juga nasional. Diketahui, dua wilayah pemukiman yang terdampak berada di kecamatan Sayung dan Bonang.
Dampak adanya perubahan iklim bahkan telah dirasakan lebih dulu di Kecamatan Sayung. Beberapa desa berubah menjadi lautan dan hanya segelintir keluarga saja yang bertahan. Sedangkan di Kecamatan Bonang, tiga desa, yaitu Purworejo, Margolinduk, dan Morodemak lambat laun mulai merasakannya.
Sekretaris Jendral Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Susan Herawati Romica, menilai, perlu adanya perhatian serius dalam melakukan perencanaan pembangunan daerah. Sebab, adanya perubahan iklim akan berdampak pada semua sektor masyarakat yang hidup di wilayah pesisir.
Baca juga: Nekat Terjang Rob di Jalan Pantura Sayung Demak, Banyak Motor Mogok
“Pemerintah provinsi dan daerah, seharusnya menindaklanjuti rencana pembangunan dengan mengupayakan pada pendapatan daerah, untuk membantu masyarakat bawah,” katanya melalui telpon, Senin (22/5/2023).
Bagi Susan, melakukan penanaman pohon mangrove tidak cukup membantu mengatasi rob di wilayah pesisir Demak. Kondisi itu tidak akan jauh berbeda, apabila penataan pembangunan yang masih berantakan.
“Kalau soal penanaman mangrove itu memang penting, tapi dibangunin pabrik itu sama saja karena tanah akan amblas dan rumah-rumah tersapu oleh air laut,” imbuhnya.
Susan menerangkan, dampak perubahan iklim juga menimbulkan lingkaran kemiskinan pada warga. Hasil tangkapan ikan yang mereka dapat, hanya fokus untuk memperbaiki rumah-rumah yang berangsur tenggelam setiap tahunnya.
Baca juga: Sering Kena Rob, SDN Purwosari 2 Sayung Terancam Tak Punya Murid
“Dampak iklim merusak fasilitas rumah mereka dan juga dari hasil tangkapan ikan yang mereka dapat. Jadi seperti terjebak dalam lingkaran kemiskinan, otomatis ikan-ikan dijual kepotong dengan baiaya produksi,” terangnya.
Tidak hanya itu, faktor-faktor lain seperti pendidikan dan kesehatan anak juga perlu diperhatikan di wilayah permukiman warga yang terdampak rob. Beberapa jaringan juga turut membantu KIARA dalam melukan advokasi, seperti LBH Semarang dan Komunitas Nelayan Puspita Bahari.
“KIARA tidak hanya melakukan advokasi tapi juga membangun kapasitas kawan-kawan nelayan, lewat pendidikan, penguatan pengukuhan,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

