Larung Kepala Kerbau Jadi Puncak Kesakralan Tradisi Lomban Kupatan di Tayu

BETANEWS.ID, PATI – Sebuah miniatur perahu terlihat diturunkan dari sebuah mobil bak terbuka ketika sampai di tempat pelelangan ikan (TPI) Tayu yang berada di Desa Sambiroto, Tayu, Pati. Miniatur perahu yang berisi kepala kerbau, ketupat, lepet, dan sesajen itu kemudian diturunkan beberapa orang.

Setelahnya, miniatur perahu itu diangkat menuju sungai, yang kemudian diletakkan di perahu, untuk kemudian dibawa menuju muara sungai untuk dilarung. Aktivitas itu merupakan bagian dari prosesi larung sesaji kepala kerbau dalam gelaran Lomban Kupatan Sungai Tayu pada Minggu (30/4/2023).

Sebelum larung kepala kerbau dilakukan, masyarakat Desa Sambiroto mengadakan manakib atau doa bersama pada Sabtu (29/4/2023) malam. Mereka meminta kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan dan kelancaran rezeki.

-Advertisement-

Baca juga: Meriahnya Tradisi Lomban di Jepara yang Diikuti Ratusan Kapal

Minggu paginya, sebelum melarung kepala kerbau, warga terlebih dahulu melarung kepala kambing di sekitar Jembatan Tayu. Setelah itu, siangnya disambung karnaval dan larung kepala kerbau di Sungai Tayu.

Total, ada 14 kelompok yang memeriahkan karnaval Lomban Sungai Tayu. Berbagai kesenian ditampilkan, mulai dari drum band, tarian hingga atraksi pencak silat dari Persaudaraan Setia Hati Winongo.

Karnaval ini dimulai dari Balai Desa Sambiroto dan berakhir di TPI Tayu. Kepala kerbau pun ikut diarak dalam karnaval itu.

Ketua Panitia Lomban Kupatan Sungai Tayu, Agus Mulyono mengatakan, larung kepala kerbau selalu diadakan saat Lomban Kupatan Sungai Tayu.

“Yang dilarung itu cuma satu. Sebenarnya ada dua, yang satu kepala kambing. Tapi untuk kepala kambing ini ditempatkan di pusat atau titik koordinat, yakni dekat jembatan Tayu, ” ujarnya.

Baca juga: Tradisi Sedekah Laut di Pantai Morodemak, Tahun Ini Larung Kepala Kerbau

Ia menyebut, larung sesaji kepala kerbau itu sudah menjadi kepercayaan masyarakat zaman dulu hingga sekarang. Tradisi ini, katanya sangat diharapkan masyarakat, karena ada kesakralan.

“Jadi sakralnya ini ada korban. Sejak corona tidak ada larung sesaji, itu saya kira sudah ada korban 10. Misal ada orang mancing, tiba tiba jatuh. Ada pemuda yang tiba-tiba ingin main ke sungai, dan dalam waktu 15 menit hilang. Maka pesan orang orang terdahulu itu, larung sesaji itu harus ada,” imbuhnya.

Untuk itu, larung sesaji kepala kerbau tersebut kembali dilakukan pada saat Lomban Kupatan Sungai Tayu saat ini.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER