BETANEWS.ID, PATI – Masyarakat di pesisir Sungai Tayu, Pati, khususnya Desa Sambiroto menggelar Lomban Kupatan setiap sepekan setelah Lebaran Idulfitri.
Ketua Panitia, Agus Mulyono, mengatakan, tradisi Lomban Kupatan sudah ada sejak zaman kolonial, tepatnya 1943. Ketika itu, pemerintahan dipimpin oleh Wedana yang membawahi beberapa wilayah setingkat kecamatan saat ini.
“Lomban Kupatan yang pertama kali muncul di Tayu. Zaman dulu, per tahun setelah Lebaran Kupatan kemudian diadakan Lomban Kupatan. Ada larung sesaji, ada perahu-perahu sampan yang ikut merayakan di Sungai Tayu,” ucapnya saat ditemui, Minggu (30/4/2023).
Baca juga: Kades Sambiroto: ‘Lomban Kupatan Aslinya di Tayu, yang Lain KW’
Ia menyebut, sebenarnya even ini adalah level kecamatan yang tempatnya di Desa Sambiroto. Sehingga kepanitian dan masyarakat yang terlibat adalah warga Sambiroto.
Untuk tahun depan, katanya, kepanitian akan melibatkan desa yang ada di Kecamatan Tayu.
Menurutnya, dalam Lomban Kupatan ini ada prosesi larung sesaji kepala kerbau. Sebelum larung kepala kerbau dilakukan, masyarakat Desa Sambiroto mengadakan manakib atau doa bersama pada Sabtu (29/4/2023) malam. Mereka meminta kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan dan kelancaran rezeki.
Baca juga: Larung Kepala Kerbau Jadi Puncak Kesakralan Tradisi Lomban Kupatan di Tayu
Minggu paginya, sebelum melarung kepala kerbau, warga terlebih dahulu melarung kepala kambing di sekitar Jembatan Tayu. Setelah itu, siangnya disambung karnaval dan larung kepala kerbau di Sungai Tayu.
Total, ada 14 kelompok yang memeriahkan karnaval Lomban Sungai Tayu. Berbagai kesenian ditampilkan. Mulai dari drumband, tarian hingga atraksi pencak silat dari Persaudaraan Setia Hati Winongo. Karnaval ini dimulai dari Balai Desa Sambiroto dan berakhir di TPI Tayu. Kepala kerbau pun ikut diarak dalam karnaval itu.
Editor: Ahmad Muhlisin

