BETANEWS.ID, PATI – Kepala Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu, Pati, Sulistiyono menyebut, tradisi Lomban Kupatan aslinya di Tayu. Hal ini menyusul banyaknya daerah yang menggelar kegiatan serupa dengan sebutan Lomban Kupatan.
“Lomban Kupatan aslinya di Tayu, yang lain KW,” ujar Sulis saat sambutan dalam kegiatan Lomban Kupatan Sungai Tayu pada Minggu (30/4/2023).
Ia menyebut, tahun ini merupakan pertama kali Lomban Kupatan diadakan usai Pandemi Covid-19. Tiga tahun pandemi, menurutnya kegiatan tersebut tidak diadakan karena ada pembatasan.
Baca juga: Larung Kepala Kerbau Jadi Puncak Kesakralan Tradisi Lomban Kupatan di Tayu
Dalam Lomban Kupatan ini, ada larung sesaji kepala kerbau dan juga karnaval yang dimulai dari Balai Desa Sambiroto hingga tempat pelelangan ikan (TPI) Tayu.
Ia mengajak masyarakat untuk tetap menguri-uri tradisi yang sudah ada sejak dulu tersebut. Lomban Kupatan ini merupakan kegiatan yang digelar usai sepekan setelah Lebaran Idulfitri.
Sementara itu, Agus Mulyono, Ketua Panitia Lomban Kupatan juga menegaskan, kalau Lomban Kupatan di Kabupaten Pati itu hanya di Tayu.
“Yang daerah lain itu sedekah laut. lomban yang pertama kali muncul itu di Tayu, yang dulu dipimpin oleh Wedono zaman dulu. Per tahun setelah lebaran kemudian diadakan lomban. Ada larung sesaji, ada perahu-perahu sampan yang ikut merayakan di sungai Tayu,” ungkapnya.
Baca juga: Meriahnya Tradisi Lomban di Jepara yang Diikuti Ratusan Kapal
Sedangkan Nashicun, Asisten 2 Setda Pati yang hadir dalam Lomban Kupatan mengatakan, pemerintah daerah selalu mendukung kegiatan budaya seperti ini.
“Kami dari pemda mengharapkan acara seperti ini diuri-uri. Terus lestarikan budaya ini yang merupakan bagian dari kekayaan budaya daerah,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

