BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah kaligrafi tampak terpajang di Galery Seni Menara Kudus, sebelah Utara Masjid Al-Aqso Menara Kudus. Di sana, seorang pria tampak sedang mengecat kaligrafi dari limbah spon. Dia adalah Muhammad Noor Syamsul Huda (40) owner Galery Seni Menara Kudus.
Setelah menyelesaikan aktivitasnya, pria yang akrab disapa Huda itu bersedia berbagi infomasi tentang usahanya. Ia mengatakan, saat ini ia memproduksi kaligrafi dari beberapa limbah sekitar yang tidak terpakai. Limbah tersebut dari kayu, spon bekas produksi peci, limbah kopi, tampah, limbah kertas duplek, hingga limbah kain goni.

Huda mulai membuat kaligrafi dari limbah itu sejak 2020, yang bekerja sama dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Kaliwungu dan Jepang.
Baca juga: Unik, Warga Demak Ini Buat Kaligrafi dari Kelaras
“Alhamdulillah untuk saat ini peminatnya sudah lumayan. Dalam sebulan itu ada pesanan kurang lebih empat kali,” kata Huda kepada Betanews.id, Rabu (12/4/2023).
Ia menjelaskan, tujuannya membuat kaligrafi itu karena ingin mengurangi limbah, dengan menjadikan produk kerjainan bernilai jual tinggi. Dalam proses pengerjaan, terkadang satu buah produk bisa setengah jam hingga 10 hari. Itu tergantung dari kesulitan, ukuran, dan banyaknya huruf kaligrafi dari setiap limbah yang dibuat.
“Kalau harga bervariasi mulai dari Rp2 juta hingga Rp10 juta. Di sini menyediakan berbagai ukuran, mulai dari 30×30 sentimeter hingga ukuran 100×120 sentimeter,” ungkapnya.
Rata-rata peminat kaligrafi adalah orang yang biasa berkunjung Menara Kudus kemudian memesan kaligrafi sebagai cinderamata.
“Paling unik ya kaligrafi dari limbah kopi. Karena kopi tidak hanya sebagai minuman saja, tapi limbahnya bisa dibuat kaligrafi. Yang pesan ini adalah bos Sidji Coffee langsung, dan kopi dari sana,” terangnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

