31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Balada Nelayan Bantaran Tambakrejo di Hari Nelayan 2023

BETANEWS.ID, SEMARANG – Warga Tambakrejo RT 006 RW 016, Tanjungmas, Semarang Utara, merayakan Hari Nelayan pada Minggu (9/4/2023). Meski hari nelayan sebenarnya jatuh pada 6 April, warga tetap merayakan agenda tahunan tersebut. Perayaan ini rutin dilakukan sejak 2020, sekitar setahun setelah rumah-rumah mereka sempat digusur pada 9 Mei 2019.

Di 2023 ini, perayaan hari nelayan bertepatan dengan bulan Ramadan. Perayaanpun disesuaikan dengan mengadakan buka bersama di masjid Al Firdaus. Perayaan bertajuk Balada Nelayan Bantaran ini mendasarkan semangat para nelayan Tambakrejo yang tidak berhenti bergerak untuk mewujudkan Kampung Nelayan yang sejahtera dan makmur.

Kampung Nelayan adalah sebutan pemukiman warga Tambakrejo yang selesai dibangun pemerintah pada 2021. Kampung nelayan yang dihuni 97 KK tersebut merupakan hunian relokasi atas penggusuran rumah-rumah warga sebelumnya. Penggusuran dilakukan karena rumah-rumah warga Tambakrejo yang didirikan di bantaran sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang berhimpitan dengan muara Kali Banger, dianggap ilegal.

-Advertisement-

Baca juga: Pencinta Sastra dan Aktivis Gerakan Penasaran dengan Drama ’65

Sedangkan penggusuran rumah-rumah warga itu merupakan bagian dari proyek normalisasi Banjir Kanal Timur. Awalnya pemerintah kota telah menyediakan rusunawa di daerah Kudu sebagai relokasi. Namun warga yang sebagian berprofesi sebagai nelayan tradisional menolaknya karena tempat relokasi yang jauh dari laut tersebut dinilai menghilangkan mata pencaharian warga.

Kampung Nelayan yang kini berdiri menempati lahan di muara Kali Banger yang sudah diurug dan dimatikan. Peristiwa bersejarah bagi warga tersebut mereka abadikan dengan memberi nama hunian barunya dengan nama Kampung Nelayan Tambakrejo. Setelah warga resmi menempati Kampung Nelayan, pemekaran RT pun dilakukan oleh pwmerintah kota. Sebelumnya mereka menginduk RT 005 yang merupakan kampung Tambakrejo seberang kali mati, Banger, yang tidak ikut digusur karena merupakan hunian legal.

Di Kampung Nelayan ini, warga Tambakrejo bantaran, sebutan yang dulu disematkan bagi warga Tambakrejo yang tinggal di Bantaran BKT, hampir selalu mengadakan acara-acara yang mengidentifikasikan porfesi nelayan tradisional. Seperti peringatan sederhana dan terbatas pada Hari Nelayan 2020 yang mereka lakukan saat puncak Pandemi Covid-19. Tak hanya itu, mereka juga sering mengadakan acara berbasis kebudayaan untuk mengenang peristiwa penggusuran atau tradisi-tradisi khas pesisir lainnya.

Baca juga: Aktivis HAM Semarang Memprotes Kriminalisasi Budi Pego

Pada perayaan Hari Nelayan 2023 ini, hadir pula seniman-seniman Semarang, Guyub TBRS dan para aktivis HAM yang terdiri dari LBH Semarang, Walhi Semarang, dan beberapa mahasiswa Semarang. Mereka sejak sebelum penggusuran sudah mendampingi warga dalam melakukan advokasi kemanusiaan.

Di Balada Nelayan Bantaran, seniman Semarang, Babahe, mengawali dengan alunan lagu Leo Kristi ‘Gulagalugu Suara Nelayan.’ Dilanjutkan Sony, warga Barutikung yang menyanyikan lagu balada tentang kerinduan akan laut yang belum tercemar polusi. Ada pula musisi-musisi lain yang ikut memeriahkan Balada Nelayan Bantaran, seperti Kssit dan Rssky. Selanjutnya Ketua RT 006, Rohmadi membuka acara dengan diskusi yang nampak aktif direspon warga.

“Harapannya warga Tambakrejo bisa langgeng, ora ono gusuran neh, ora ono pindahan neh, ngoten nggih,” ujar Rohmadi.

“Semoga di hari nelayan ini kita semakin bisa mengembangkan diri, agar nelayan tradisional bisa lebih sejahtera lagi,” timpal Dhani, nelayan tradisional Tambakrejo.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER