BETANEWS.ID, SEMARANG – Sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa Tengah menyambut Ramadan dengan melakukan berbagai ritual, seperti ruwahan dan berziarah ke makam leluhur. Tak hanya leluhur secara garis keturunan, ziarah juga tertuju ke tokoh-tokoh keagamaan, seperti di Makam Kiai Soleh Darat.
Makam yang berada di TPU Bergota Semarang itu tampak ramai oleh peziarah yang datang silih berganti. Mereka tampak antre memasuki area makam yang baru dipugar oleh Pemerintah Kota Semarang pada Maret ini.
Juru Kunci Makam Kiai Soleh Darat, Sumiyati, menerangkan, pada momen-momen tertentu seperti ruwah ini, makam guru pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan itu selalu ramai didatangi peziarah. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan hingga luar Jawa.
Baca juga: Tradisi Nyadran, Upaya Mengingat Leluhur di Bulan Ruwah yang Ada Sejak Zaman Majapahit
Namun uniknya, menurut Sumiyati, meski peziarah banyak datang dengan bus, makam Kiai Soleh Darat tidak pernah sampai dibanjiri peziarah. Walau tidak ada yang mengatur, peziarah datang secara bergiliran, tidak menumpuk.
“Seperti ada yang mengatur, satu bus datang, kemudian bergantian, terus menerus dua puluh empat jam,” ungkap Sumiyati.
Sumiyati menerangkan, di joglo makam Kiai Soleh Darat terdapat makam-makam kerabat sang kiai. Sementara di sisi Selatan terdapat kuncup makam tersendiri, yang merupakan makam marbot masjid Kiai Soleh Darat, di daerah Darat, Dadapsari, Semarang Utara. Masih dalam naungan joglo sama, terdapat pula makam warga biasa yang ikut ditata dan dibangun lantai keramik. Ini karena makam Bergota memang padat dan berjejal-jejalan.
Editor: Ahmad Muhlisin

