BETANEWS.ID, KUDUS – Warga tumpah ruah di tepi Jalan Sunan Kudus hingga halaman Masjid Menara Kudus. Mereka berjajar menyabut Kirab Banyu Panguripan Sendang dan Belik Kasunan Kudus.
Tampak setiap peserta kirab yang membawa Banyu Panguripan, para warga pun berebut memintanya. Mereka percaya, Banyu Panguripan yang dibawa dalam kirab tersebut punya segudang berkah.
Salah satunya adalah Susi Elintiya Nur (17). Siswi. Pelajar Madrasah Aliyah (MA) kelas XII itu percaya, bahwa Banyu Panguripan mengandung penuh berkah dari Kanjeng Sunan Kudus. Sehingga siapa pun yang dapat air tersebut akan dapat berkahnya Sunan Kudus.

Baca juga: Kirab Banyu Panguripan Dikawal Pasukan Bregodo Kasunanan Kudus
“Saya percaya Banyu Panguripan ada berkahnya Mbah Sunan Kudus. Makanya saya ikut berebut Banyu Panguripan. Harapannya, sehat, pintar dan didekatkan jodoh,” ujarnya sembari tersenyum.
Hal senada juga dikatakn oleh Zuhri. Warga Kudus tersebut sengaja datang bersama istrinya ke acara Kirab Banyu Panguripan Sendang dan Belik Kasunan Kudus. Ia rela antre dan berdesakan dengan warga lain di halam Masjid Menara Kudus untuk bisa mendapatkan air yang konon penuh berkah tersebut.
“Alhamdulillah dapat,” ujarnya riang sembari membawa air di dalam botol plastik. Air tersebut pun kemudian diminum bersama istrinya dan cuci muka.
Dia mengaku percaya Banyu Panguripan Kanjeng Sunan Kudus penuh dengan berkah. Oleh karenanya ia pun datang untuk ngalap berkah.
“Datang minta Banyu Panguripan, sekaligus ngalap berkah, agar sekeluarga sehat dan rezeki lancar. Ini bukan syirik, karena air ini sifatnya perantara dan kami tetap percaya semua tetap dari Allah. Kirab ini juga bagian dari budaya yang harus dilestarikan,” bebernya.
Sementara itu, Steering Committe Perayaan Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Abdul Djalil mengatakan, dalam acara Kirab Banyu Panguripan, punden dan belik yang dilibatkan sebanyak 197. Menurutnya, jumlah 197 itu refleksi dari tanggal dan bulan Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus.
“Ta’sis Menara Kudus lahir tanggal 19 Rajab. Sedangkan Rajab adalah bulan ke Tujuh terhitung mulai Muharram. 19 itu tanggalnya dan 7 itu bulannya,” ujar pria yang akrab disapa Jalil tersebut.
Baca juga: Berharap Berkah, Warga Berebut Air di Kirab Banyu Penguripan Kudus
Dia menuturkan, semua Banyu Panguripan tersebut diiring dari Pendopo ke Manara Kudus. Sesampai di Menara Kudus, Banyu Panguripan dari sendang dan belik tersebut disatukan dengan Banyu Panguripan Sunan Kudus.
“Setelah itu, Banyu Panguripan diberikan lagi kepada masing-masing pemangku sendang dan belik. Sisanya kemudian dibagikan kepada para warga,” jelasnya.
Disinggung apakah Banyu Panguripan tersebut berkhasiat, Djalil menuturkan, air tersebut namanya Banyu Panguripan. Tentunya, namanya urip itu menjadi hidup.
“Harapannya dengan Banyu Panguripan tersebut, rezekinya hidup, pikirannya hidup, hatinya hidup,” imbuhnya.
Editor: Kholistiono

