BETANEWS.ID, SEMARANG– Guna menekan harga beras yang terus naik, Perum Bulog Jawa Tengah (Jateng) menggelar monitoring pelaksanaan stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) di Pasar Peterongan, dengan memberikan droping beras sebanyak 500 ton ke pedagang.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jateng Akhmad Kholisun menuturkan, kegiatan monitoring SPHP ini, melakukan pemantauan di 20 titik.
Berdasarkan pantauan, pedagang wajib menjual dengan HET Rp 9.450 per kilogram. Karena beras berukuran 5 kg, mereka wajib menjual dengan harga maksimal Rp 47.250 per kg. Menurutnya kegiatan SPHP ini mampu mempengaruhi beras medium lainnya di Pasar Peterongan, yang kisaran harganya hampir Rp 11.000 per kg.
Baca juga: Ganjar Kaget Beras di Jateng Naik, Langsung Cek Gudang Bulog Ngabeyan Sukoharjo
“Di Peterongan sudah melakukan pantauan hampir 20 titik. Agar berasnya refresh terus pagi ini sekitar 500 ton, karena satu titik minimal 10 pack,” ungkapnya.
Tak hanya di Pasar Peterongan Semarang, pihaknya mengaku kegiatan SPHP ini juga dilaksanakan di seluruh pasar tradisional di Jawa Tengah. Ia mengaku, sepanjang Januari 2023 Perum Bulog sudah menggelontorkan 9 ribu ton beras untuk menstabiliskan harga.
“Untuk tahun 2023 bulan Januari, di Jateng sudah ada 9 riibu ton beras yang di gelontorkan,” katanya.
Ia pun melanjutkan, ada enam jalur yang dilakukan Perum Bulog dalam penyaluran beras KPSH. Yaitu lewat Satgas Bulog yang melakukan SPHP dengan canvassing keliling menggunakan mobil-mobil Bulog, melalui saluran pengecer, melalui distributor atau mitra bulog, melalui Pemda, sinergi dengan BUMN, dan menjual melalui pasar online.
Pihaknya mengaku, stok beras di Jateng masih aman hingga pertengahan Februari 2023. Yakni sebanyak 15 ribu ton beras.
Baca juga: Minta Pemerintah Kaji Ulang Impor Beras, Ganjar: ‘Jangan Sampai Pas Petani Panen Harganya Jatuh’
“Stok saat ini di Jateng masih ada 15 ribu ton. Kita perkirakan hingga sampai pertengahan Februari,” ujarnya.
Sementara itu, Staf Distribusi dan Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng Evy Dwi Korawati mengaku sangat mengapresiasi Perum Bulog yang gencar melakukan stabilisasi harga.
“Di Jawa Tengah sudah dialokasikan. Minimal ada lima titik untuk pasar, tapi di sini luar biasa di 12 titik dan semua terkondisikan dengan baik. Harganya juga standar dengan harga HET,” ujarnya.
Editor: Kholistiono

