BETANEWS.ID, SEMARANG – Proses pembuatan tanggul darurat di titik jebolnya tanggul sungai Pengkol, di lingkungan perumahan kluster Dinar Indah, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang telah mencapai 50 persen.
Proses pemancangan dan pemasangan sesek bambu sudah selesai dilakukan. Begitu pula dengan pengisian karung pasir pada tanggul darurat sepanjang 20 meter itu.
Pengawas Lapangan, Fajar Utomo menerangkan, pembuatan tanggul tersebut sifatnya hanya sementara.
“Sifatnya tanggul sementara, jadi dibuat menggunakan karung pasir dan di split dengan bambu. Saat ini sudah ada 5.000 karung pasir, yang sudah dipasang sekitar 3.000 dan masih ada stok lagi di atas,” katanya saat ditemui di lokasi tanggul jebol Perumahan Dinar Indah Meteseh, Senin (9/1/2023).

Baca juga: Banjir Mulai Surut, Pemkot Semarang Kebut Pembersihan Lumpur di Berbagai Wilayah
Pihaknya menyebut, hingga hari ini (9/1/2023) penambalan atau pembuatan tanggul darurat sudah mencapai 50 persen. Proses penambalan termasuk cepat karena dikerjakan secara gotong-royong.
“Kita dibantu sama temen-temen lainnya dalam pembuatan tanggul ini dan sudah hampir 50 persen pembangunan tanggul ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang Sih Rianung mengatakan, penambalan tanggul ini ditargetkan rampung dalam kurun waktu dua hari ke depan. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh personel yang sudah ikut terjun dalam proses penambalan tanggul.
“Targetnya dua hari lagi, kalau dikeroyok bareng-bareng pasti akan lebih cepat selesainya,” katanya.
Lanjutnya, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana dalam proses pembuatan tanggul untuk Sungai Pengkol tersebut. Sebab, saat ini tanggul hanya bersifat sementara dalam rangka penanganan darurat.
“Kami sudah koordinasi dengan BBWS, karena ini salah satu sungai di bawah wilayahnya BBWS. Tanggul ini sifatnya sederhana dan darurat untuk mencegahlah kalau-kalau terjadi luapan air bisa di tanggulangi,” tutupnya.
Sementara itu, untuk kondisi terkini, nampak warga Perumahan Dinar Indah masih berkutat membersihkan sisa-sisa lumpur di rumah. Salah satu warga RT 6 RW 26 Maria Grace mengaku, banyak barang-barang yang tidak bisa diselamatkan pada banjir bandang beberapa hari lalu.
Baca juga: Jadi Langanan Banjir, Pakar Lingkungan Sebut Pemkot Semarang Kurang Perhatikan Peringatan BMKG
Ia menyebut, sudah merasakan banjir di Perumahan Dinar Indah sebanyak 3 kali selama satu tahun belakangan.
“Banjir bandang juga tapi hanya satu meter sudah tiga kali, tapi tidak separah ini. Karena yang kali ini tingginya 2,5 meter sudah seatap,” katanya.
Maria mengaku mengalami kendala dalam proses bersih-bersih rumah. Karena setelah terjadi banjir bandang, air bersih susah didapatkan.
“Kendala di air bersih ya, karena sudah dua hari air PAM mati dan baru nyala hari ini. Saya dan keluarga juga masih mengungsi di Diklat Ketileng, karena listrik juga belum nyala,” akunya.
Editor: Kholistiono

