Pembangunan Pura Giti Natha Semarang Terapkan Metode Asta Kosala Kosali, Ini Penjelasannya

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sejak pembangunan pertama tahun 1967, Pura Giti Natha Semarang menerapkan metode Asta Kosala Kosali. Dengan sistem itu, Ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Semarang I Nengah Wurta Darmayan menyebut, merupakan salah satu antisipasi untuk menangkal longsor ataupun banjir.

I Nengah melanjutkan, cara ini memiliki metode tidak pernah membuang air ke luar pura, tetapi air hujan tersimpan lagi ke dalam tanah.

Menurutnya, penerapan ini menyesuaikan dengan lokasi Pura Giri Natha yang berada di wilayah dataran atas tepatnya di Jalan Sumbing No 12 Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang.

-Advertisement-

Baca juga: Pura Agung Giri Natha Kini Kini Punya Spot Selfie yang Suguhkan Pemandangan Kota Semarang dari Ketingggian

“Kita ini letaknya berada di atas bukit, kenapa di wilayah bukit bisa menjadi longsor disebabkan karena tidak ada resapan air di dalam tanah dan aliran air yang keluar dari lokasi itu,” jelas Nengah.

Sumur resapan yang terdapat di Pura ini, lanjutnya, berjumlah 12 sumur resapan sesuai dengan panduan Asta Kosala Kosali. Satu sumur memiliki ukuran 1×1 meter dengan kedalaman 1,5 meter.

“Air hujan yang dari genteng ini nantinya tidak akan terbuang di luar, karena otomatis akan jatuh ke sumur resapan,” ujarnya.

Fungsi sumur resapan itu sendiri, guna menampung air hujan untuk mengganti air yang telah diambil.

“Sumur resapan ini, efektifnya di buat di wilayah atas, kalau kita berada di Genuk, maka tidak bisa membuat sumur resapan,” ungkapnya.

Ia pun memberikan gambaran, bahwa di dalam tanah terdapat kandungan air. Sehingga ketika pembangunan gedung atau hotel yang sifatnya memerlukan air banyak, sudah seharusnya memperhatikan perihal sanitasinya.

“Jangan hanya ambil saja air ABD (air bawah tanah) kemudian digunakan untuk mandi, bayangkan jika satu hotal yang dua ratus kamar dengan kapasitas 2 orang per kamar. Maka berapa liter dia mengambil air di bawah tanah itu,” jelasnya.

Ketika sanitasi tidak diperhatikan dan air hujan dibiarkan ke sungai maka lama kelamaan air laut yang bakal masuk.

Baca juga: Ratusan Umat Hindu di Semarang Rayakan Hari Raya Galungan

“Di samping kita harus mengambil air itu, kita harus menabung air. Jadi air yang kita harus mengambil air itu, kita harus mengembalikan air yang sudah dipakai untuk di serap menjadi air bersih,” ucapnya.

Secara realitasnya, ia mengaku ini sebagai bentuk memulyakan alam yang ditinggali. Penerapan sumur resapan ini juga telah diterapkan dibeberapa negara, seperti Belanda dan Jepang.

“Dia kan pulau-pulau kecil dengan dikelilingi laut, kalau tidak begitu air ditempatnya pasti asin airnya,” katanya.

Ia menambahkan, metode sumur resapan ini hanya bisa dilakukan di wilayah atas saja, kalau di Semarang seperti wilayah Banyumanik, Tembalang, dan lainya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER