Fatkah melanjutkan, setelah memakan bubur gamping, cucu Mbah Depok Soponyono kemudian terbangun lagi. Dari peristiwa inilah desa ini kemudian diberi nama Kaliputu. ‘Kali’ yang berarti sungai dan ‘putu’ bermakna cucu. Sedangkan bubur gamping dikembangkan masyarakat menjadi jenang.
Tradisi membuat jenang masih bertahan

Ditemui di Balai Desa Kaliputu, Widiyo Pramono selaku Kepala Desa mengungkapkan, tradisi pembuatan jenang Kudus masih berlangsung di desanya hingga saat ini. Tercatat, saat ini ada sekitar 27 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergerak dalam bidang kuliner jenang. Ia juga mengakui Desa Kaliputu masih butuh banyak pengembangan, khususnya para pelaku usaha jenang.
“Kebanyakan yang usaha jenang ini sudah memasuki generasi ketiga. Harapannya pengusaha jenang guyup agar bisa maju bersama,” terangnya.
Desa dengan 2900 penduduk dan memiliki luas wilayah sekitar 50,9 hektar itu juga memiliki tradisi khas yang disebut Kirab Jenang Tebokan. Tradisi ini, katanya, diselenggarakan setiap bulan Muharam atau tahun baru Hijriah. Kedepan, kegiatan tersebut akan dikembangkan menjadi rangkaian kegiatan selama satu bulan.




