31 C
Kudus
Rabu, Januari 28, 2026

Cerita Apit Sampai Nekat Utang Bank untuk Pertahankan Bisnis Kerupuk Tayamum

BETANEWS.ID, DEMAK – Isnaini Afidah (37) terlihat sedang membolak-balik kerupuk mentah yang ia jemur di depan rumah. Selang beberapa saat, ia lantas masuk rumahnya untuk melayani beberapa pembeli yang sedang memilih kerupuk.

Setiap hari, ia berbagi tugas dengan suaminya yang bagian mengolah adonan, sedangkan dirinya mengurusi penjemuran dan transaksi pembeli. Mereka bahu membahu membesarkan usaha rintisan orang tuanya yang telah menopang keuangan keluarganya sejak 2014 lalu.

“Kerupuk kan mayoritas dari sini, jadi saya ikut membuatnya juga. Meskipun banyak yang buat kerupuk tapi namanya bakul pasti ada yang pakem belinya di mana,” katanya pada betanews.id, Jumat (23/12/2022).

-Advertisement-

Baca juga: Berkunjung ke Kalitekuk, Sentra Kerupuk Tayamum di Demak

Di Dukuh Kalitekuk, Desa Ngaluran, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak memang terkenal dengan kerupuk pasir atau tayamum. Apit menerangkan, kebanyakan pengusaha kerupuk masih kalangan saudara dan beberapa tetangga dekat. Berbeda dengan dirinya, saudara-saudaranya ada pula yang khusus menjual dalam bentuk matang, bagian pemasaran, dan pembuatan bumbu.

“Yang masih keluarga itu ada 14, kerupuk mentah yang buat ada enam, yang khusus goreng pakai pasir ada empat, goreng pakai minyak ada dua, jual ke pasar ada dua, dan membuat bumbu ada satu,” terangnya.

Kerupuk tayamum yang dijual Apit itu ada beragam jenis, di antaranya kerupuk ukuran kecil atau ya uuk, ukuran memanjang atau semprong, kerupuk lubang empat, dan sidoarjonan. Pelanggannya mayoritas adalah bakul pasar yang membelinya secara langsung ke rumah warga.

“Biasanya dibuat oleh-oleh kadang ada yang ke sini seperti bakul, nanti dijual lagi di pasar,” imbuhnya.

Mengurusi bisnis rumahan tidak selamanya berbuah manis, Apit bahkan sempat meminjam bank untuk keperluan modal. Adanya kelonjakan Covid-19 lalu, mengakibatkan pengurangan karyawan dan jumlah produksi.

Baca juga: Cerita Rudi Berdayakan Emak-Emak di Desanya untuk Produksi Teh Daun Kelor yang Hasilnya Menjanjikan

“Dulu punya karyawan dua, tapi karena banyak nganggurnya akhirnya pada kerja kuli bangunan. Pas masih tiga orang bisa buat 4 kuintal, sekarang dua orang paling banyak 3 kuintal,” jelasnya.

Meskipun pernah mengalami masa sulit, Apit dan suaminya masih bertahan dan mulai adanya perbaikan produksi. Hal itu ia lakukan untuk menjaga kerupuk tayamum yang menjadi ciri khas Demak.

“Saya maunya dijual lebih luas lagi, tapi saingannya sudah banyak. Tapi tidak apa-apa, rezeki sudah ada yang ngatur,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER