BETANEWS.ID, SOLO – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan rupanya sangat dibutuhkan di Jepang dan negara Timur Tengah. Tingginya permintaan ini membuat siswa SMK Kesehatan berlomba-lomba jadi yang terbaik agar bisa bekerja di luar negeri.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan SMK Kesehatan Indonesia (Persemki) Singgih Purnomo menjelaskan, khusus untuk Jepang, tenaga keperawatn asal Indonesia yang dibutuhkan adalah caregiver atau perawat warga lanjut usia. Untuk menyiapkan tenaga kesehatan yang akan dikirim ke Jepang itu, meraka akan dilatih di bidang yang akan diambil, ditambah mengikuti pendidikan Bahasa Jepang selama enam bulan.
“Jadi kami menyiapkan sebuah bangunan dan fasilitas yang mirip dengan RS lansia di Jepang. Sehingga manakala dia bekerja di sana tidak canggung lagi. Karena di Jepang ini kan banyak orang lanjut usia yang tidak terurus oleh keluarganya karena mungkin kesibukannya, maka dititipkan ke panti jompo,” katanya sat jumpa pers di Solo Grand City Hotel, Jumat (16/12/2022).
Baca juga: SMK Kesehatan Citra Medika, Sekolah yang Lulusannya Banyak Kerja di Jepang, China, dan Malaysia
Ketua Umum Panitia Pelaksana Nasional HUT Ke-7 Persemki Sri Supriyati menambahkan, dari beberapa kunjungan Persemki ke beberapa negara di Asia dan Timur Tengah, tenaga keperawatan dari Indonesia sangat diminati.
“Bukan sekedar terampil, tetapi mereka (pengguna jasa) butuh sentuhan lembut, yang mana ini tidak dimiliki oleh pekerja-pekerja lain. Sehingga InsyaAllah dengan sedikit kita meningkatkan keterampilan bahasa yang selama ini menjadi kendala, itu justru akan mempunyai bargaining position di tingkat internasional,” katanya.
Sri menyebut, saat ini tenaga keperawatan masih didominasi dari Filipina dan Thailand karena penguasaan bahasa yang lebih tinggi. Namun, dari sisi keterampilan masih kalah dengan tenaga dari Indonesia.
Baca juga: Sukses Kerja di Jepang, Lulusan SMKN Jateng Ini Bisa Renov Rumah, Beli Tanah hingga Mobil
“Seperti bagaimana cara menyuapi misalnya tetapi dengan penuh kelembutan, dengan adanya persuasif seperti itu. Jadi orang tua masih memiliki rasa dibutuhkan. Selain itu juga bisa menjembatani komunikasi antara anak dan orang tua yang dirawat,” ujarnya.
Sekjen DPP Presmeki, Nano Priyanto melanjutkan, tenaga yang akan dikirim ke luar negeri bukan hanya dilatih berbahasa, tapi juga dari sisi mental dan juga fisik. Apalagi para tenaga kerja akan merantau selama kurang lebih tiga tahun lamanya.
“Jadi kebutuhannya setiap tahun hampir 500 ribu, tapi kemampuan Indonesia paling antara 20-an ribu setiap tahun saja. Jadi memang sangat masih kurang banyak karena memang orang Indonesia tidak suka merantau ya. Makanya sekarang digencarkan kita banyak sekolah yang mengirim ke sana,” kata Nano.
Editor: Ahmad Muhlisin

