25 Persen Kasus Stunting di Jateng Berasal dari Keluarga Menengah ke Atas

BETANEWS.ID, SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen membeberkan 25 persen kasus stunting di wilayahnya berasal dari keluarga menengah ke atas. Data ini membuktikan bahwa stunting terjadi tidak hanya dipengaruhi faktor kemiskinan, tetapi juga perilaku hidup bersih masyarakat.

“Artinya di daerah-daerah yang notabene mungkin ekonominya sudah mapan, akan tetapi kebiasaan kesehatan, kebiasaan hidup sehat ini, masih belum sesuai,” ungkapnya saat membuka kegiatan Evaluasi Program Percepatan Penurunan Stunting, di Hotel Arrus, Selasa (13/12/2022).

Makanya, Gus Yasin mengingatkan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang dipimpinnya, bahwa masih banyak persoalan yang perlu diperhatikan. Persoalan tersebut adalah calon pengantin dan ibu hamil yang berisiko melahirkan generasi stunting, karena memiliki penyakit penyerta. Selain itu, remaja putri penerima pemeriksaan status anemia masih tergolong rendah.

-Advertisement-

Baca juga: Kisah Salamah, Kader Kesehatan di Kebumen yang Abdikan 35 Tahun Hidupnya untuk Tangani Stunting

“Perlu saya sampaikan juga, jumlah berisiko stunting di Jateng ada 57 rujukan calon pengantin, ada 891 rujukan ibu hamil, dan 716 anak baduta (bawah usia dua tahun) menjadi rujukan. Ini potensi yang paling berisiko,” tuturnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih memiliki waktu kurang lebih dua tahun hingga 2024 nanti, untuk menurunkan prevalensi stunting hingga tinggal 14 persen, sesuai target pemerintah pusat.

Oleh karena itu, Gus Yasin meminta agar waktu yang ada dimanfaatkan dengan baik. Anggota TPPS wajib bekerja kelompok, lintas sektoral, sebab persoalan stunting tidak bisa diatasi sendiri, per individu, ataupun per lembaga.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Widwiono membeberkan, selama 2019 hingga 2021, Jateng berhasil menurunkan stunting lebih cepat dari pemerintah pusat. Pada 2019, angka stunting nasional sama dengan Jawa Tengah, yakni sebesar 27 persen.

Baca juga: Ganjar Alokasikan APBN 2023 Jateng Sebesar Rp104 Triliun untuk Tangani Stunting dan Kemiskinan

“Tapi (2021) di Jateng bisa turun menjadi 20,9 persen, tapi angka nasional masih di angka 24 persen. Bahkan saya selalu banding-bandingkan dengan dua provinsi besar, yaitu Jawa Timur dan Jawa Barat. Ternyata Jateng percepatan penurunan stuntingnya lebih progresif dari dua provinsi lain,” urainya

Widwiono pun menyampaikan terima kasih atas kerja keras TPPS Jawa Tengah, yang berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan. Pihaknya optimistis, dengan komitmen Jateng didukung semua stakeholder, target penurunan stunting pada 2024 akan tercapai dengan baik.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER