31 C
Kudus
Sabtu, Februari 14, 2026

Menteladani Sikap Disiplin dari Menteri Soepeno

BETANEWS.ID, SEMARANG – Ada kisah menarik tentang seorang menteri yang bekerja sampai mengorbankan nyawanya. Hingga detik terakhir dia tetap gagah walau di kepalanya sudah menempel pistol tentara Belanda.

Cerita ini dimulai 19 Desember 1948. Pasukan baret merah Belanda, Korps Speciale Troepen terjun merebut Lapangan Terbang Maguwo di Yogyakarta. Tak lama kemudian mendaratlah pesawat-pesawat Dakota menurunkan pasukan komando baret hijau Belanda.

Mereka bergerak cepat menguasai Yogyakarta. Presiden Soekarno, Perdana Menteri Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat pemerintahan ditangkap. Sementara itu Jenderal Soedirman bergerak masuk hutan, memimpin TNI untuk bergerilya.

-Advertisement-

Baca juga: Ganjar Apresiasi Banyak Pahlawan Baru Bermunculan yang Tak Butuh Popularitas

Tak semua pejabat sipil menyerah, sebagian ikut bergerilya. Mencoba menggerakan pemerintahan dari hutan belantara. Karena itu kabinet ketujuh RI atau yang disebut Kabinet Hatta I disebut sebagai Kabinet Gerilya.

Supeno ditunjuk Hatta sebagai menteri pemuda dan pembangunan dalam kabinet tersebut. Setelah Yogyakarta jatuh, Supeno ikut bergerilya dan memberikan perlawanan.

Setelah berbulan-bulan bergerilya, Supeno dan rombongannya tertangkap Belanda di Desa Ganter, Dukuh Ngliman, Nganjuk. Ketika itu Supeno sedang berada di pancuran untuk mandi. Setelah diinterogasi, pada akhirnya Soepeno ditembak mati. Soepeno yang lahir di Pekalongan 12 Juni 1916 itu, gugur pada 24 Febuari 1949.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, Soepeno dianugerahi gelar pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No.039/TK/Tahun 1970 tanggal 13 Juli 1970. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Tak hanya itu, kini nama Soepeno juga dijadikan nama jalan di beberapa wilayah di Indinonesia, termasuk di Kota Semarang yaitu Jalan Menteri Supeno di Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Bahkan ternyata, anak dan cucu Menteri Soepeno pun tinggal dan tumbuh di Kota Semarang. Ia adalah dr Joedyaningsih SW. Wanita yang merupakan putri tunggal dari pasangan Soepeno dan Kamistin tersebut, lahir di Yogyakarta pada 1 Juni 1944.

Yudi sapaan akrabnya, mengaku meski harus kehilangan ayahnnya saat usianya yang masih sangat kecil, tetapi ia masih mengingat betul bagaimana kenangannya bersama sang ayah.

“Meski ayah saya pergi saat usia saya masih 4 tahun, tapi saya ingat betul kenangan-kenangan saya dengan ayah saya. Salah satunya adalah kenangan saat saya masih tinggal di Jogja, saat ada pesawat berterbangan di atas rumah, saya diajak beliau berljndung dengan lari dan bersembunyi di got,” ceritanya saat ditemui di kediamannya pada Rabu (09/11/22).

Ia pun mengaku, bahwa ayahnya merupakan pribadi yang sangat disiplin, tegas dan sederhana. Tiga sifat ini lah yang ia pegang teguh dan ia ajarkan kepada putra-putrinya sampai sekarang.

“Ayah itu sosok yang tegas dan disiplin, apa-apa harus tepat waktu. Sifat itulah yang saya pegang teguh sampai sekarang dan saya terapkan ke anak-anak saya. Kalau sudah kerja ya jangan korupsi, jangan mementingkan diri sendiri, harus tolong menolong. Memang tidak mudah untuk mendidik generasi berikutnya tapi ya dicoba,” ucapnya.

Saat mengenang memori bersama sang ayah, Yudi mengaku kerap menangis, karena membayangkan apa yang dialami oleh sang ayag untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada masa itu.

Baca juga: Peringati Hari Pahlawan, Wagub Jateng : Siapapun Bisa jadi Pahlawan untuk Bangsa dan Negara

“Kalau saya baca kisahnya saya itu sering menangis sendiri, saya banyangkan betapa beratnya perjuangan ayah saya waktu itu untuk Indonesia,” kenangnya.

Sehingga dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Indonesia 2022 ke-77 dengan Tema Pahlawanku Teladanku ini, ia memberikan pesan kepada generasi muda untuk lebih menghargai jerih payah para pahlwan dengan melestarikan hal-hal yang positif. Sebab melestarikan hal-hal baik itu adalah salah satu bentuk perjuangan di masa sekarang.

“Kalau zaman dulu memperjuangkan negara dengan membawa senjata, kalau zaman sekarang perjuangan generasi muda bisa dengan mengamalkan serta melestarikan hal-hal baik. Karena hal tersebut sama saja dengan meneruskan perjuangan pahlawan yang telah gugur di masa lampau,” tutupnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER