31 C
Kudus
Sabtu, Desember 3, 2022
BerandaBUDAYATradisi Nginang saat...

Tradisi Nginang saat Sekaten Disebut Lambangkan 5 Rukun Islam

BETANEWS.ID, SOLO – Nginang sudah menjadi tradisi tersendiri bagi masyarakat Solo saat perayaan Sekaten. Kegiatan tersebut hanya dilakukan selama tujuh hari, mulai saat gamelan sekaten pertama kali dibunyikan di saat 5 Rabiul Akhir.

Kinang terdiri dari beberapa komponen, di antaranya daun sirih, tembakau kering, gambir, kapur sirih, dan juga bunga kantil. Bahan-bahan tersebut diracik menjadi satu kemudian dikunyah dan diratakan ke seluruh bagian gigi.

Menginang saat Sekaten, rupanya juga memiliki beragam makna di dalamnya. Tiap-tiap komponen yang disatukan juga memiliki makna masing-masing.

Tradisi nginang saat gamelan sekaten Solo dibunyikan. Foto: Khalim Mahfur.
- Ads Banner -

Baca juga: Tradisi Nginang saat Sekaten di Solo, Diyakini Bisa Buat Awet Muda

Ketua Takmir Masjid Agung Solo Muhtarom menenerangkan, Kinang sendiri terdiri dari lima buah komponen yang melambangkan lima rukun Islam.

“Artinya petunjuk ini harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang Islam harus menjalankan 5 rukun Islam,” paparnya.

Rukun Islam yang pertama adalah membaca dua kalimat syahadat atau syahadatain dalam Bahasa Arab. Namun, kata Syahadatain susah dilafalkan oleh masyarakat Jawa, sehingga menjadi kata Sekaten.

“Setelah membaca dua kalimat syahadat maka di gapura atau tembok Kalimasada atau kalimat syahadat, maka orang itu sudah yukafiru dzunub jami’an. Allah telah mengampuni dosa dosanya, maka orang-orang akan memasuki gapura, dari kata ghafura setelah orang-orang diampuni dosanya di masa lalu,” paparnya.

Kemudian, unsur yang kedua adalah Gambir yang melambangkan salat dan injit (kapur sirih) melambangkan puasa.

“Tiga unsur ini pahit semua. Tetapi kalau tiga unsur ini dikonsumsi secara bersamaan, nyatanya orang nginang itu tidak merasakan pahit. Anehnya di situ. Artinya kalau kita sudah melakukan atau melaksanakan syahadat melaksanakan salat melaksanakan puasa kita sudah bagus, sudah manis,” tuturnya.

Kemudian, tembakau atau susur melambangkan zakat. Muhtarom menerangkan, ketika memiliki harta harus dibagikan kepada yang membutuhkan dan tidak dinikmati sendiri.

“Artinya ketika kita memiliki kekayaan ataupun kelebihan sedikit atau banyak kita harus meratakannya, jangan dinikmati sendiri, diratakan seperti susur di Kinang ,” terangnya.

Baca juga: Sepasang Gamelan Sekaten Solo Dibunyikan, Warga Berebut Janur dan Nginang

Setelah melaksanakan empat rukun Islam di atas, yang terkahir adalah melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Muhtarom menerangkan, orang yang sudah melaksanakan ibadah haji bisa dikatakan sudah sempurna rukun Islam yang dikerjakan.

“Orang yang beribadah haji itu sudah harum menjadi contoh, menjadi teladan, penyejuk umat, sehingga orang kalau pakai kembang Kanthil itu kan wangi, dan akhirnya bisa mengharumkan suasana, bisa mengharumkan keluarganya, bisa mengharumkan lingkungan sekitarnya,” paparnya.

Editor: Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler