BETANEWS.ID, SOLO – Kenaikan harga kedelai yang terjadi sekitar dua pekan belakangan ini membuat para produsen tahu mengeluh. Hendro (34) misalnya. Produsen tahu Sari Murni di Kelurahan Krajan RT 3 RW 3 Kecamatan Mojosongo, Solo itu mengaku usahanya kalang kabut sejak komoditas yang jadi bahan baku utama itu merangkak naik.
“Itu kayake per hari gitu bisa naik dulu, terakhir itu kayake kalo nggak salah Rp12.650. Kalau hari ini belum tahu,” katanya kepada Betanews.id, Kamis (29/9/2022).
Padahal, dalam sekali produksi, Hendro membutuhkan bahan dasar kedelai sebanyak tiga sampai empat kuintal. Karena kenaikan harga kedelai itu, Hendro mengaku harus mengurangi jumlah kedelai yang digunakan. Meski demikian, menurutnya kualitas tahu yang dihasilkan masih sama.
Baca juga: Harga Kedelai Impor Naik Jadi Rp12.600 Sekilo, Pedagang Pasar Legi: ‘Saya Hanya Ikut Regulasi’
“Ya pengurangan kedelainya aja. Maksudnya ini nanti dikurangi sedikit kedelainya, paling selisih sedikit. Dulu sudah dengan menaikkan harga, tapi selama ini belum dinaikkan lagi,” ungkapnya.
Jenis tahu yang diproduksi oleh Hendro adalah jenis tahu putih dan tahu kepal. Ia menjual per loyangnya dengan harga Rp24 ribu.
Produsen tahu lain, Anang Frans (23) mengatakan, jika suatu saat harga kedelai mencapai angka Rp13 ribu, ia terpaksa menaikkan harga tahunya. Kendati demikian, ia juga akan mengkomunikasikan hal itu dengan pelanggannya terlebih dahulu.
“Sebelum naik tapi tanya konsumen. Nek bakule ora gelem ya susah ngko (kalau nggak mau ya susah nanti), pasarnya nggak ada. Risiko pedagang (makanan) pokok itu pembeli kita mau jual lagi ke warung, mahasiswa, padahal di situ harganya kan terjangkau. mereka juga khawatir kalau dijual dengan harga mahal,” ujar Anang.
Baca juga: Gegara Harga Kedelai Naik, Omzet Perajin Tahu Anjlok Karena Produksi Turun
Anang menjual tahunya dengan harga Rp30 ribu per loyang. Ia memperkirakan, satu loyangnya memerlukan kedelai sekitar 7,25 kilogram.
Menurutnya, kenaikan harga kedelai terus menggila di tahun ini. Ia menyebut, tahun-tahun sebelumnya harga kedelai belum mencapai Rp10 ribu per kilogram.
“Kayu untuk bahan bakar masih normal. Yang mahal ya bahan pokok kedelai dan minyak. Sampai sekarang hal-hal di luar itu masih stabil,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

