BETANEWS, KUDUS – Seorang wanita tampak menata beberapa pakaian di stand Bazar UMKM Kick Off Harlah 1 Abad NU di Gedung JHK Kudus. Sambil menata produknya itu, ia kedapatan beberapa kali mengundung pengunjung untuk mampir ke tempatnya. Mereka lantas dijelaskan pakaian-pakaian yang dibuat dengan metode ecoprint tersebut. Dia adalah Helma Susanti (50), Owner Ecoprint Godong Salam.
Helma mengatakan, ecoprint buatanya itu laris manis dibeli warga dari berbagai daerah. Ia bahkan mengaku penjualannya telah merambah hingga luar negeri.

“Kemarin dibawa temen sampai ke Turki. Kalau Indonesia sih banyak dari online. Paling jauh dari Manokwari, Jambi, Palembang, Pontianak, Jakarta, dan Jawa,” katanya pada betanews.id, Selasa (9/8/2022).
Baca juga: Sepatu Hingga Tas Kulit Ecoprint dari Komunitas C3rmin yang Miliki Nilai Jual Tinggi
Di tempatnya, ia punya berbagai macam produk, seperti mug, botol minum, tas, baju, sepatu, home dekor, seprai, dan gorden. Untuk satu produk ecoprint, Helma menjualnya mulai dari Rp50 ribu sampai Rp2 juta.
“Kita termurah itu mug Rp50 ribu, kalau yang kain termahal berbahan sutra itu Rp2 juta,” terangnya yang punya tempat jualan di Perumahan Salam Residen blok A nomor 36, dan workshop di Desa Kandangmas itu.
Berbeda dengan teknik batik pada umumnya, lanjut Helma ecoprint dibuat dengan menggunakan dua cara, yakni dipukul dan di-steam. Ia menjelaskan, mula-mula kain dibersihkan dengan tawas, lalu ditempel beberapa daun dan terakhir direbus.
Baca juga: Batik Ecoprint Karya Rina Ini Jadi Incaran Banyak Orang, Setiap Bikin Langsung Laku
“Kalau yang kita bawa kebanyakan dikukus. Jadi sebelum kain diolah, ada beberapa tahapan, dalam istilah ecoprint ada pembersihan terlebih dahulu dari bahan kimia dengan tawas, baru ditata daun lalu dikukus,” jelasnya.
Terdapat beberapa macam daun yang digunakan untuk ecoprint, seperti bunga kenikir, daun jeruk pulung, daun matoa, dan lain-lain. Helma menuturkan, daun-daun itu banyak dijumpai di lingkungan sekitar.
“Sebisa mungkin kami menggunakan daun yang ada di sekeliling kita. Untuk pewarna kita sekam menggunakan daun mangga, kayu alpukat, kayu mahoni,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

