31 C
Kudus
Jumat, Agustus 12, 2022
spot_img
BerandaWISATAMuseum Diponegoro, Saksi...

Museum Diponegoro, Saksi Bisu Penangkapan Pangeran Diponegoro Oleh Belanda di Magelang

BETANEWS.ID, KOTA MAGELANG – Bangunan berasitektur Belanda di Jalan Diponegoro No 1, Kota Magelang itu terlihat masih begitu terawat. Dengan halaman luas yang ada patung meriam di depannya, rumah itu terlihat sangat berbeda di banding bangunan lain di area tersebut.

Di gedung itulah, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda saat diajak berunding oleh Jenderal De Kock. Kini, gedung tersebut beralih fungsi menjadi museum yang menyimpan barang-barang bersejarah milik Pahlawan Nasional itu.

Museum Diponegoro di Kota Magelang. Foto: Budi Prasetyo

Penjaga Museum Diponegoro Sunaryo menjelaskan, museum tersebut sebelumnya merupakan rumah dinas Jendral De Kock pada masa kekuasaan Belanda di Indonesia. Bangunan yang dibangun pada 1810 itu selanjutnya jadi Kantor Karesidenan Kedu, sebelum kemudian menjadi museum yang diresmikan Presiden Soekarno pada 1969.

- Ads Banner -

Sunaryo menjelaskan, koleksi yang ada di dalam museum di antaranya empat kursi yang digunakan untuk perundingan Pangeran Diponegoro dengan Jenderal De Kock. Untuk kursi yang dulu diduduki Pangeran Diponegoro disimpan dalam lemari kaca.

Baca juga: Museum BPK RI Usung Konsep Modern, Dilengkapi Teknologi Canggih dan Instagramable

“Di kursi diceritakan ada guratan kuku atas kemarahan Pangeran Diponegoro dengan Belanda. Kursi ini disimpan dalam lemari kaca agar lestari dan aman dari tangan jahil pengunjung,” jelas Sunaryo, Kamis (14/7/2022).

Museum tersebut juga menyimpan jubah Pangeran Diponegoro yang digunakan saat Perang Jawa pada 1825 hingga 1830 melawan pemerintah Hindia Belanda. Jubah itu juga digunakan saat berunding dengan Belanda.

“Jubah itu terbuat dari kain shantung, berasal dari Tiongkok. Tingginya 170 sentimeter lebarnya 120 sentimeter,” jelas Sunaryo.

Terdapat juga lukisan Pangeran Diponegoro pada saat usia 35 tahun karya Mr Junet dari Belanda. Selain itu juga ada lukisan Raden Saleh yang menerangkan pengasingan Pangeran Diponegoro oleh Belanda.

“Ada juga lukisan yang menerangkan Pangeran Diponegoro sedang perang dengan Belanda di Bukit Menoreh, Borobudur. Ada lukisan lagi menerangkan naik kudanya Ki Gentayu sedang menyeberang Sungai Progo,” lanjut Sunaryo.

Baca juga: Menguak Keunikan Candi Ngawen di Magelang, Candi Budha yang Dijaga 4 Singa Misterius

Selain itu, lanjut Sunaryo, museum itu juga menyimpan koleksi cangkir, poci, dan kendi yang digunakan pada saat di gua Selarong Yogyakarta. Koleksi ini mempunyai sejarah dan kesaktian yang bisa membuat pasukan Pangeran Diponegoro bertahan dalam peperangan melawan Belanda.

“Ada 7 cangkir minuman kesukaan Pangeran Diponegoro, air putih mentah dan mateng, kopi, teh jahe. Jadi kalau hari-hari tertentu minumannya seperti itu. Kendinya memiliki khasiat ganda, kalau perang selalu dibawa, karena bisa untuk minum lebih dari 100 pasukan,” ungkap Sunaryo.

Di Museum Diponegoro juga terdapat bale tempat Pangeran Diponegoro salat. Bale itu digunakan saat nyantri dengan Kyai Muhammad Safi’i di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

“Selanjutnya ada Kitab Takrib yang berisi siasat perang dan Hukum Islam, kitabnya Kanjeng Pangeran Diponegoro, yang menulis Kyai Nur Imam dan Penerjemah Kyai Pelangi dari Yogyakarta,” kata Sunaryo.

Museum Diponegoro juga terdapat jubah tiruan dan juga koleksi tulisan-tulisan tentang Pangeran Diponegoro saat berada di Yogyakarta, di rumah dinas gubernur Belanda, ada juga saat berada di Makasar dan di makam.

Baca juga: Mencari Keberkahan di Sendang Manis Kolokendang Peninggalan Kyai Raden Santri

Menurutnya, Museum Diponegoro memiliki sejarah yang patut untuk dikenang, karena menjadi saksi Pangeran Diponegoro ditangkap sebelum diasingkan ke Karisedenan Semarang. Selanjutnya Pangeran Diponegoro dibawa ke Batavia dan kembali diasingkan ke Sulawesi hingga akhir hayat.

“Saat ini Museum Diponegoro sudah kembali dibuka setiap hari untuk umum. Biasanya yang berkunjung ke sini kebanyakan dari para siswa, namun ada juga wisatawan umum dan juga para pecinta sejarah. Untuk datang ke Museum Pangeran Diponegoro tidak dipungut biaya,” pungkas Sunaryo.

Editor: Ahmad Muhlisin

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

32,381FansSuka
15,327PengikutMengikuti
4,330PengikutMengikuti
90,084PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler