BETANEWS.ID, MADIUN – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi Kampung Pancasila yang sempat viral di Desa Bulakrejo, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Sabtu (16/4/2022). Tempat yang menyediakan tempat ibadah lima agama itu mengundang rasa penasaran Ganjar yang kemudian menyempatkan diri mampir saat kunjungan kerja ke Jawa Timur.
Di tempat itu dibangun masjid, gereja, vihara, kelenteng, dan pura yang mengelilingi satu bangunan utama yaitu rumah milik KH Ali Mursyid. Seluruh bangunan itu memang sejak tahun 2000an telah disiapkan sebagai simbol persatuan. Maka, kediamannya tersebut dinamai Kampung Pancasila.

Tak hanya melihat-lihat, Ganjar yang didampingi istri, Siti Atikoh juga berkesempatan salat di masjid yang ada di sana. Ia juga menyempatkan diri mampir ke rumah pengelola Kampung Pancasila Madiun, KH Ali Muslih.
Baca juga: Kunjungi Batik Ciprat Langitan di Magetan, Ganjar Diajari Membatik Oleh Penyandang Disabilitas
“Ini sesuatu yang menarik di Madiun ya, satu tempat yang sempat viral karena cerminan rumah ibadah semua ada di sini. Inilah sebenarnya cerminan Indonesia yang harus kita rawat dan kita jaga,” kata Ganjar.
Toleransi antar umat beragama, lanjut Ganjar, adalah yang ditunjukkan di tempat itu. Sang pemilik, KH Ali Mursyid begitu serius mengelola tempat itu sebagai tempat wisata sekaligus penebar kebaikan.
“Pak Kyai membuatkan tempat ini selain untuk mengenalkan toleransi juga sebagai tempat piknik. Efeknya dahsyat, karena di depan banyak orang bisa jualan. Ketika banyak pengunjung datang, tentu ekonomi masyarakat sekitar bisa berkembang. Ya, ada spirit menebar kebaikan di sini,” ucapnya.
Sementara itu, KH Ali Muslih mengatakan, alasannya membuat Kampung Pancasila adalah untuk menebar kerukunan dan toleransi. Sebab menurutnya, saat ini banyak orang yang sudah tidak peduli dengan hal itu.
Baca juga: Selain Bedah Rumah, Ganjar Juga Bangun Masjid dan Bantu Ponpes
“Membina orang untuk rukun dan toleran itu sulit sekali saat ini. Makanya saya membuat tempat ini dengan harapan bisa menumbuhkan kembali rasa itu,” kata Kiai Ali yang meneruskan pengelolaan tempat tersebut seletah Kiai Ali Mursyid wafat 2007 lalu itu.
Kiai Ali menambahkan, dengan dibuatnya tempat wisata dengan miniatur tempat ibadah agama-agama di Indonesia, maka orang yang datang bisa belajar untuk saling menghormati.
“Anak-anak sekolah kalau datang ke sini bisa mudah memahami, bagaimana keanekaragaman itu dan bagaimana kita tetap bersatu dengan berbagai perbedaan. Jadi ini miniatur negara, ada Bhineka Tunggal Ika di sini,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

