BETANEWS.ID, SOLO – Mengenakan busana lurik, ratusan remaja membentangkan bendera merah putih sepanjang 1.000 meter. Berawal dari Museum Keris, bendera tersebut dibentangkan melintasi Jalan Slamet Riyadi Solo hingga Museum Radyapustaka.
Setibanya di Museum Radyapustaka, mereka melingkarkan bendera merah putih itu di Patung Ronggowarsito. Di depan patung tersebut juga terdapat seseorang sesepuh yang terlihat terus merapalkan mantra-mantra sembari menaburkan bunga-bunga.
Selain bendera merah putih, terlihat juga Wayang Semar berukuran besar dengan tinggi lima meter berdiri menghadap patung pujangga Keraton Solo, Ronggowarsito itu.

Baca juga : Hadiri Festival Wayang Bocah 2021, Gibran: ‘Event Budaya Kita Genjot Terus’
Setelah pria yang membacakan mantra tersebut selesai, dilanjutkan dengan beberapa remaja perempuan yang menari dengan anggun. Dengan balutan busana yang didominasi warna putih, mereka nampak luwes menari.
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Reuni Semar Jaga Wayang yang diselenggarakan pecinta dan pelestari wayang, serta sejumlah komunitas pegiat budaya Solo.
Ditemui seusai acara, Ketua Panitia Ki Kenthongan mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk aksi spiritual untuk menunjukkan, bahwa budaya Jawa, khususnya wayang masih eksis di Kota Solo.
“Kami ingin memperlihatkan kepada golongan yang akhir-akhir ini tidak suka dengan budaya kita. Bahkan dengan terang-terangan mengajak generasi muda agar memusnahkan wayang,” kata Ki Kenthongan, Selasa (15/3/2022).
Menanggapi terkait adanya golongan yang hendak memusnahkan wayang beberapa waktu lalu, menurutnya hal tersebut adalah hal yang mustahil. Karena, menurutnya hal tersebut sama seperti memusnahkan bayangan manusia.
Lebih lanjut, Ki Kenthongan menjelaskan, kirab bendera merah putih dan Wayang Semar raksasa tersebut merupakan simbol spiritual.
“Kita ingin membawa kekuatan dan energi spiritual yang disimbolkan dengan keris, kemudian diserahkan kepada pemerintah dalam hal ini Disbudpar Solo agar lebih mendapatkan kekuatan karena bersinergi dengan pecinta budaya,” terangnya.
KI Kenthongan berharap, ke depannya Disbudpar bisa bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Solo agar anak-anak sekolah tetap mencintai budaya Jawa terutama wayang.
“Karena perlu sinergi dengan semua pecinta budaya untuk melestarikan budaya kita, terutama yang hari ini kita tekankam adalah jaga wayang itu untuk generasi muda,” ujarnya.
Baca juga : Pagelaran Wayang Kolaborasi Sandosa Tandai Kebangkitan Event Budaya di Solo
Sementata itu, Kepala bidang Kebudayaan Disbudpar Solo, Sungkono mengatakan, pihaknya sangat mendukung untuk menggiatkan kebudayaan kepada anak-anak muda di Solo.
“Harapan kami ke depan bisa anak anak muda kita untuk sehati dengan wayang yang ada di Kota Surakarta, terutama wayang kulit dan wayang orang,” jelasnya.
Menurut Sungkono, kondisi pewayangan di Solo sebenarnya masih baik. Hanya saja, karena masih pandemi Covid-19 volume pentas wayang berkurang.
“Nanti kalau sudah selesai pandemi Insya Allah kembali lagi. Banyak sekali kegiatan untuk generasi muda yang seperti fesival wayang bocah, dalang bocah, kita lakukan di Dinas Kebudayaan,” ungkapnya.
Editor : Kholistiono

