BETANEWS.ID, SOLO – Tujuh perempuan berpakaian dodot nampak anggun menarikan tarian Bedhaya Anglir Mendung. Mereka menari mengikuti alunan gamelan Jawa dari para penabuh. Tarian Bedhaya Anglir Mendung itu dimainkan pada upacara Jumenengan KGPAA Mangkunegara X, Sabtu (12/3/2022).
Tarian tersebut selalu ditampilkan pada saat upacara Jumenengan dan Tingalan Jumenengan di Pura Mangkunegaran.
Baca juga : Ganjar Dukung Revitalisasi Keraton Jadi Pusat Kebudayaan di Era KGPAA Mangkunegara X
Diketahui, Jumenengan adalah upacara penobatan tahta. Sedangkan, Tingalan Jumenengan merupakan upacara untuk memperingati ulang tahun kenaikan tahta.
Salah seorang penari yang bernama Fransiska Yunita Alfiandri (22) mengatakan, tarian Bedhaya Anglir Mendung bercerita tentang prajurit wanita yang akan berangkat berperang pada masa Mangkunegara ke I atau yang lebih dikenal Raden Mas Said.
“Latihannya itu setelah 100 hari KGPAA Mangkunegara IX meninggal. Pelatihnya dari Mangkunegaran, namanya bu Rusini,” kata dia ketika diwawancara usai upacara Jumenengan.
Wanita yang menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Fakultas Pertanian itu mengatakan, latihan dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu.
“Seminggu kalau pas awal awal itu dua kali, tapi pas mendekati hari H setiap hari latihannya,” ungkapnya.
Menurut Alfi, ia memiliki kendala saat belajar tarian tersebut. Yakni menyamakan gerakan, serta mencari waktu latihan yang pas antara satu sama lainnya.
“Penarinya totalnya ada tujuh, ganjil. Penarinya ada dari ISI sama UNS,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengaku tidak ada pantangan khusus sebelum menampilkan tarian itu. Hanya saja, sebelum tampil, penari melaksanakan doa bersama atau wilujengan di Pura Mangkunegaran.
Baca juga : Momen Presiden Jokowi Tiba-Tiba Hadir di Upacara Jumenengan KGPAA Mangkunegara X
Alfi mengatakan, total durasi penampilan tarian Bedhaya Anglir Mendung itu sekitar 40 menitan. Ia juga mengaku bangga dapat membawakan tarian sakral itu.
“Yang pertama bangga sih yang kaya utama, kan nggak semua orang bisa terpilih dari penari Anglir Mendung. Ya juga seneng bisa berproses di dalam Pura Mangkunegaran, kayak dapat pengalaman baru juga,” ucapnya.
Editor : Kholistiono

