BETANEWS.ID, KUDUS – Suparlan (69) terlihat sedang memotong bagian bambu menjadi ukuran sekitar 15 sentimeter. Setelah bambu terpotong, ia pun menghaluskan sisi potongan menggunakan pisau khusus. Setelah dirasa memiliki ketukan nada yang pas, ia pun mulai merangkai satu per satu bambu hingga menjadi sebuah alat musik yang bernama angklung.
Di kediamanya yang berada di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu, Suparlan sudah menggeluti pembuatan angklung sejak 1980an. Berawal dari mengikuti perlombaan tongtek saat masih muda, ia justru terpesona dengan alat musik dari Tanah Pasundan tersebut.

“Jaman Dulu di Kudus sering ada kegiatan lomba keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di bidang keamanan ronda malam. Salah satu lomba yang diusung adalah tongtek. Nah dari situ akhirnya saya terinspirasi untuk merambah membuat angklung,” ujarnya, Rabu (02/03/22).
Baca juga: Ngatmin, Tukang Kayu Lulusan SD yang Mendunia dengan Biola Bambu Buatannya
Suparlan juga menceritakan, dari perlombaan itu, tongtek Gebog juga sering menjuarai event Kamtibmas. Bahkan, kejuaran tersebut bisa sampai tingkat kabupaten, Karesidenan Pati, hingga provinsi.
“Awalnya ketika kejuaraan itu jadi banyak yang pesan tongtek buatan saya, itu tahun 2000an, banyak sekolah Kudus yang memesan,” tambahnya.
Suparlan mengaku belajar membuat alat musik khas Jawa Barat ini saat masih sekolah di SMPN 1 Gebog. Waktu itu, ia sering membantu gurunya membuat angklung. Kemudian setelah dewasa, dia mencobanya lagi secara otodidak.
“Pembuatan angklung sangatlah rumit. Bahkan kini bahan baku bambunya pun sangat sulit ditemukan,” beber dia.
Menurut dia, ada cara-cara tertentu untuk menentukan bambu yang bisa dibuat angklung. Pertama, harus berusia tiga tahun; lalu harus diambil sekitar bulan April-Agustus; Saat penebangan bambu harus setelah jam 9 pagi sampai sebelum jam 2 siang; Untuk pengeringannya tidak boleh langsung terkena sinar matahari.
“Kalau caranya salah akan mempengaruhi suaranya,” jelasnya.
Baca juga: Bahan Bisa Pilih, Ukulele Buatan Sistoyo Ini Dijual Mulai Rp75 Ribu
Untuk jenis bambu yang paling bagus untuk angklung adalah bambu tutul, tetapi kini sudah agak langka. Sehingga, Suparlan kini menggunakan bambu wulung, bambu hijau, dan bambu apus atau bambu putih.
Lalu untuk satu set angklung, lanjut Suparlan, ia mematoknya seharga Rp5 juta untuk ukuran besar, sedang Rp3,5 juta, dan kecil Rp2 juta. Sementara penjualannya sudah menyasar hingga Demak, Jepara, Pati, dan Rembang.
Editor: Ahmad Muhlisin

