31 C
Kudus
Rabu, Juni 29, 2022
spot_img
BerandaSOLOApresiasi Perjuangannya Ajari...

Apresiasi Perjuangannya Ajari Anak-anak Musik, Disabilitas di Solo Ini Dapat Motor Modifikasi

BETANEWS.ID, SOLO – Bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap 3 Desember, Yayasan Tawon Gulo Indonesia dan Loveland Indonesia memberikan apresiasi kepada salah satu penyandang disabilitas di Kota Solo, yaitu Sugian Noor dengan memberikan motor modifikasi untuk difabel.

Motor jenis matic yang sudah dirancangs edemikian rupa itu diserahkan kepada Sugian di Ngarsopuro, Mangkunegaran, Solo, pada Jumat (3/12/2021) pagi. Dengan motor tersebut, lelaki yang biasa dipanggil Om Gi’ tersebut tidak perlu lagi repot, karena kursi rodanya bisa ia gunakan saat mengendarai motor tersebut.

Founder Yayasan Loveland Indonesia, Mujadi Tani mengatakan, pemberikan motor modifikasi difabel tersebut untuk mengapresiasi perjualan Sugian Noor dalam membimbing dan mengajari anak-anak disabilitas belajar musik.

- Ads Banner -

Baca juga : Cerita Pak Bhabin di Semarang yang Rela Gendong Lansia Agar Mau Vaksin

“Kenapa dipilih Om Gi’, ya karena dia berbuat. Kalau difabel mungkin banyak, tapi sosok Om Gik ini dia berjuang dan peduli pada anak-anak dengan mengajari bermain musik,” jelas Mujadi.

Untuk membuat motor modifikasi untuk difabel tersebut, Mujadi menyebut bahwa proses pengerjaan diperlukan selama enam bulan. Bahkan, perakitan motor tersebut dilakukan di bengkel khusus yang juga milik penyandang disabilitas.

“Dananya dari kolektif kita open donasi selama satu tahun. Untuk merakit motor modifikasi ini butuh biaya Rp16 juta,” ujar Mujadi.

Selain motor modifikasi, pada kesempatan itu juga Om Gi’ juga mendapatkan SIM D dari Satlantas Kota Solo. Dengan motor tersebut, diharapkan dapat menunjang aktivitas Om Gi’ saat mengajar.
Diketahui, selama ini untuk beraktivitas mengajar selalu berjalan dengan kursi roda dengan didorong anak-anaknya. Dengan bantuan tersebut, Sugian bisa menjalankan aktivitasnya lebih mudah.

Sementara itu, Om Gi’ mengatakan, kesempatan untuk lebih produktif dan inovatif bagi penyandang disabilitas di Indonesia dinilai masih sangat kurang. Menurutnya, pemerintah kurang memberikan kesempatan tersebut kepada disabilitas.

“Harapannya, pemerintah kasih dong kesempatan, karena saat kami diberi kesempatan, akan lebih produktif dan inovatif. Selama ini, stigma difabel kan gak enak, nonproduktif, miskin, bodoh, ketergantungan. Stigma negatif itu kadang membuat swasta dan pemerintah sendiri bimbang saat memberikan kesempatan,” kata Sugian, Jumat (3/12/2021).

Om Gi’ juga menyayangkan pejabat pemerintah yang tidak paham dengan penyandang disabilitas. Seperti yang sedang hangat diperbincangkan, Menteri Sosial Tri Rismaharini yang meminta penyandang tuna rungu untuk berbicara.

“Contohnya Bu Risma yang mengatakan kepada penyandang tunarungu, kamu bisa bicara. Bu Risma gak tahu sampai Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) protes,” lanjut Om Gi’.

Baca juga : Senangnya Cahya, Penyandang Lumpuh Layu di Jepara saat Miliki KTP

Lebih lanjut, Om Gi’ mengatakan, selama ini penyandang disabilitas jarang berada di perusahaan atau instansi formal. Meski sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menyatakan kuota tenaga kerja difabel dari 100 orang pekerja ada satu untuk difabel, tetapi dalam UU tersebut tidak dituliskan mengenai sanksi.

“Jadi implementasi di perusahaan masih biasa. Misal perusahaan gak angkat difabel juga gak papa kok, kecuali di pasal berikutnya ada, bilamana tidak ada pekerja difabel dikenakan sanksi. Ditambah lagi ada setiap lowongan kerja tertulis syarat harus sehat jasmani dan rohani,” papar Om Gi’.

Editor : Kholistiono

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler