BETANEWS.ID, SEMARANG – Sekitar 950 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang selalu dihantui air rob yang bercampur dengan banjir setiap hari, terutama ketika musim hujan.
Sudah lama warga tak bisa tidur nyenyak, lantaran teror rob dan banjir tak kenal waktu. Banjir dan rob bisa datang kapan saja, tak bisa ditebak. Tak terhitung barang berharga milik warga rusak karena air rob dan banjir.
Banjir rob bukan menjadi hal baru bagi warga Kampung Nelayan di pesisir utara Kota Semarang ini. Mereka telah hidup bertahun-tahun berdampingan dengan air laut yang pasang sampai daratan.
Baca juga: Penurunan Tanah di Tambaklorok Disebut Sudah Sampai 30 Cm per Tahun
Istri Ketua RW 15, Kelurahan Tanjung Mas, Sri Wahyuni mengatakan, banyak barang warga yang rusak termasuk sepeda motor, kulkas, dan barang elektronik lain.
“Saya saja sudah ganti mesin cuci tiga kali, motor juga pada karatan,” jelasnya saat ditemui di depan rumahnya, Sabtu (20/11/2021).
Biasanya, air rob mulai masuk rumah mereka ketika tengah malam hingga siang. Namun, jika kondisi musim hujan, air rob yang ada di rumah warga bisa bertahan lebih lama.
“Kalau musim hujan kan ada campuran air rob dan air hujan. Jadi mereka tabrakan. Kalau air rob dari laut kalau air hujan dari atas,” ucapnya.
Bagi warga yang berduit, mereka bisa meninggikan rumahnya yang bisa menelan biaya belasan hingga puluhan juta. Namun tak jarang banyak warga yang memilih pindah, ngekos, atau kontrak rumah, karena tak punya biaya untuk meninggikan rumah.
“Kalau di RT sebelah memang ada yang sudah ditinggalkan,” paparnya.
Baca juga: Terancam Gelombang Besar, Nelayan di Semarang Minta Pemkot Buat Talud Pemecah Ombak
Selain air rob dan banjir, warga juga sudah merasakan dampak sampah yang ikut mengapung di permukiman ketika terjadi rob dan banjir. Dia mengaku banyak warga yang terganggu dengan adanya sampah tersebut.
“Di sini juga banyak sampah, tentunya menganggu aktivitas warga,” paparnya.
Karena hal itu, banyak juga balita di daerah tersebut yang stunting karena kondisi permukiman yang tak bisa terbebas dari air rob dan banjir. Sajauh ini, sudah ada puluhan bayi yang stunting di daerahnya.
“Banyak yang kena stunting,” tegas Sri yang juga menjadi ketua Posyandu di Tambaklorok.
Editor: Ahmad Muhlisin

