BETANEWS.ID, SOLO – Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas mengklarifikasi pernyataannya yang menyebut Kementerian Agama (Kemenag) merupakan hadiah untuk Nahdlatul Ulama (NU). Pernyataannya itu mengundang banyak protes dari tokoh agama dan masyarakat, hingga muncul desakan yang meminta Kemenag dibubarkan.
Sebelumnya, Yaqut mengucapkan itu saat memberikan sambutan di webinar ‘Santri Membangun Negeri Dalam Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya Dan Revolusi Teknologi’, dan ditayangkan di kanal YouTube TVNU, Rabu (20/10/2021).
Ditemui usai mengisi acara di Solo, Senin, (25/10/2021), Yaqut mengaku menyayangkan omongannya itu digoreng dan diviralkan. Ia mengatakan, pernyataan tersebut disampaikan dalam forum internal yang bertujuan untuk memberikan semangat kepada para santri NU.
Baca juga: Desember Nanti Curah Hujan di Jateng Meningkat 40 Persen, Ganjar Ajak Masyarakat Baca Info BMKG
Yaqut menegaskan, memberi semangat itu adalah hal yang wajar dilakukan. Terlebih ucapan itu disampaikan pada forum internal. Ia bahkan heran lantaran ucapannya tersebut digoreng oleh publik sehingga menimbulkan keramaian.
“Sekali lagi itu forum internal. Saya tidak tahu kok kemudian digoreng-goreng di publik. Itu internal, konteksnya menyemangati,” tegas Yaqut.
Dirinya mengibaratkan, perkataan tersebut sebagai orang yang sedang berpacaran dan memandang rembulan.
“Itu sama kira-kira ketika kalian semua ini dengan pasangan masing-masing melihat rembulan di malam hari gitu. Kemudian bilang, ‘Dik dunia ini milik kita berdua, yang lain cuma ngekos’. Salah itu? Saya tanya dulu salah itu? Salah nggak itu?” tanya Yaqut.
Bahkan untuk menunjukkan bahwa Kemenag adalah untuk semua agama, Yaqut juga mengatakan bahwa kebijakan yang dibuat oleh Kemenag tidak hanya diperuntukkan untuk organisasi NU, melainkan bagi semua ormas Islam.
Baca juga: Potret Toleransi di Jateng, ASN Non Muslim Ikut Berpakaian ala Santri
“Afirmasi semua agama kita berikan, berikan hak secara proporsional terhadap Kementerian Agama, bukan hanya itu, ormas juga bukan hanya NU saja, cek coba sekarang ada dirjen PHU (haji dan umroh) itu kader Muhammadiyah, jangan salah, dan itu biasa buat kami,” tegas Politisi PKB itu.
Selanjutnya, Yaqut menambahkan bahwa NU harus kembali pada jati dirinya. Meskipun diberikan sesuatu, menurutnya, NU harus tetap terbuka.
“NU harus tetap inklusif, NU harus tetap memberikan dirinya untuk kepentingan yang lebih besar, maslahat yang lebih besar. Bukan semuanya untuk NU, karena itu sifat dasar NU. Itu sebenarnya tujuannya, kemudian pernyataan saya digoreng-goreng,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

