31 C
Kudus
Senin, Juli 22, 2024

Musim Kemarau tapi Jateng Masih Diguyur Hujan, Ternyata Ini Penyebabnya

BETANEWS.ID, SEMARANG – Beberapa hari terakhir ini, Kota Semarang masih diselimuti oleh awan mendung meski sudah musim kemarau. Bahkan Ibu Kota Jawa Tengah itu juga sempat diguyur hujan hingga beberapa titik menimbulkan genangan air. Anomali cuaca tersebut diprediksi akan berlangsung hingga Oktober.

Menanggapi fenomena ini, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang, Iis Widya Harmoko mengatakan, kemarau tahun ini hampir sama dengan kemarau tahun sebelumnya, yakni kemarau cenderung basah.

Dia menyebut, kondisi tersebut dipengaruhi dengan adanya suhu muka laut di Indonesia khususnya Selatan Pulau Jawa mempunyai anomali yang lebih hangat dibandingkan dengan suhu rata-rata.

-Advertisement-

“Hal itu membuat penguapan tinggi dan pembentukan awan juga masih sering terjadi,” katanya, Rabu (4/8/2021).

Baca juga: Kenapa Suhu Udara di Jateng Terasa Lebih Dingin? Ini Jawaban BMKG

Hal itulah yang membuat beberapa daerah di Jateng masih mengalami hujan. Dia memperkirakan, kondisi tersebut akan berlangsung sampai pada musim kemarau tahun ini berakhir.

“Akan berlangsung sampai periode musim kemarau ini. Tak heran masih sering terjadi hujan di beberapa wilayah,” lanjutnya.

Sebelum adanya hujan lebat belakangan ini, Iis sudah menyampaikan jika musim kemarau tahun ini mundur dan periodenya lebih pendek.

“Faktor pertama La Nina. Di 2021 La Nina masih ada sampai Mei, puncaknya di Januari kemarin. Kemudian yang kedua anomali suhu permukaan laut di wilayah Indonesia. Kondisi anomali suhunya relatif hangat dan perkiraannya akan hangat terus,” terang Iis.

Baca juga: Penumpang Kereta Api di Semarang Kini Bisa Ubah Jadwal Secara Online

La Nina dengan intensitas sedang juga bisa menambah curah hujan hingga 40 persen. Maka kira-kira seperti itulah gambaran kenapa belakangan hujan di Kota Semarang terjadi meskipun masih musim kemarau.

“Sementara jika suhu permukaan laut menjadi hangat menyebabkan penguapan air cenderung lebih banyak dibanding biasanya,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER