31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaDaerahKeren! Pria Boyolali...

Keren! Pria Boyolali Ini Sulap Limbah Tahu jadi Biogas untuk Memasak

BETANEWS, BOYOLALI – Suwarno tampak sibuk di pekarangan rumahnya yang berada di Boyolali, Minggu (1/8/21). Hari itu, ia sedang memasukkan limbah tahu cair ke pondasi bawah tanah yang tertutup rapat. Pondasi itu terlihat punya beberapa selang yang menuju rumahnya. Rupanya, ia sedang membuat biogas dari limbah tahu.

Seusai menyelesaikan pekerjaannya, Suwarno sudi menjelaskan kepada betanews.id soal bahan bakar gas ramah lingkungan itu. Ia menceritakan, ide membuat biogas itu muncul saat ia sering dikomplain oleh warga sekitar lantaran ia membuang limbah tahu ke sungai. Menurut warga, limbah itu menganggu karena baunya tak enak.

“Selama produksi tahu kurang lebih 20 tahun, kami dulunya membuang limbah ke sungai. Karena diprotes, akhirnya saya punya ide mengubahnya jadi biogas,” katanya.

- Ads Banner -

Baca juga: Dukung Pengembangan Proyek Geothermal Dieng, Ganjar: ‘Bisa Jadi Wisata Energi’

Ia menjelaskan, proses pembuatan biogas itu membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan. Dalam tempat seluas 2,5 meter persegi itu, ia menyiapkan dua tabung untuk menyimpan limbah yang belum jadi dan yang satu untuk mewadahi limbah dari gas tersebut, namun dengan wujud yag sudah tidak berbahaya. Atau bisa dikatakan sudah menjadi air biasa.

Dari ide kreatifnya itu, Suwarno justru pernah mendapat penghargaan seperti juara pertama Lomba Desa Mandiri dalam HUT Jawa Tengah. Dari situ, pemerintah desa kemudian memberikan dukungan terhadap usaha biogasnya itu.

“Saya pernah mencoba gas ini di berbagai media, seperti motor, disel, tabung gas elpiji, namun tidak semua bisa. Hanya disel saja yang bisa digunakan. Disel ini digunakan untuk memberikan listrik jika sewaktu-waktu ada pemadaman. Untuk masak juga bisa,” ungkap Suwarno.

Baca juga: Puluhan Rumah di Desa Pegundungan Banjarnegara Sudah Manfaatkan Gas Rawa

Untuk keperluan memasak, lanjut dia, warga yang ingin menggunakan gas ini juga terbatas hanya sebatas tetangga terdekat saja. Yang ingin menggunakan juga tak dipungut biaya besar dan mereka cukup mencari kompor bekas yang akan ia modifikasi.

“Kalau dinilai dari sisi ekonomisnya, bahan bakar ini cukup hemat. Biasanya jika dipakai untuk tiga rumah sama sekali tidak membeli gas elpiji. Namun mereka saya anjurkan untuk menyediakan elpiji untuk berjaga-jaga jika tidak pasokan limbah untuk diolah,” tandasnya.

Penulis: Sarwono Hendro Priyono (Mahasiswa Magang  IAIN Salatiga)

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Redaksi
Beta adalah media online yang lahir di era digital. Berita yang disajikan unik, menarik dan inspiratif. Serta dikmas dalam bentuk tilisan, foto dan video.

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler