31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Keluh Ojol Kudus Akibat Penyekatan, Kena Omel Konsumen Hingga Boros BBM

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah telah memutuskan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat se Jawa dan Bali diperpanjang. Artinya, PPKM yang disertai dengan banyaknya penyekatan jalan itu akan berlanjut hingga Minggu (25/7/2021). Di Kabupaten Kudus, penyekatan jalan dianggap sangat merugikan warga. Satu di antaranya, para ojek online.

Satu di antara pengojek yang berbasis aplikasi yakni Firli (30). Dia mengaku, sangat merasakan dampaknya dari penutupan jalan. Karena penutupan jalan, ia harus memutar dan cari jalan untuk mencapai resto. Begitupun dengan jarak tempuh dari resto ke pelanggan jadi jauh.

“Karena jarak yang lebih jauh itu, kami sering terlambat. Sehingga sering kena omel para pelanggan. Padahal penyekatan itu juga merugikan kami di bahan bakar motor (BBM). Akibat adanya penyekatan jalan otomatis jarak yang kami tempuh harus memutar dan lebih jauh, sehingga BBM makin boros,” ujarnya kepada Betanews.id, Kamis (22/7/2021).

-Advertisement-

Baca juga : Tukang Parkir Pun Mengeluh Akibat Penyekatan, Siswo: ‘Sekarang Bisa Dapat Rp 35 Ribu Sudah Bagus’

Firli mengungkapkan, setiap pelanggan itu biasanya pingin cepat dan berharap makanan yang dipesan itu sampai dalam keadaan hangat. Namun, di lapangan dia dan rekan pengojek online lainnya kesusahan cari jalan. Hingga sering terlambat datang ke titik pengantaran.

“Pelanggan itu kebanyakan pingin makanan yang kami antar itu masih keadaan hangat. Tapi kan kalau banyak penyekatan, kami harus cari jalan memutar,” bebernya.

Selain itu kata dia, BBM yang dikeluarkan setiap harinya juga membludak. Sebelum ada penyekatan, tuturnya, biasanya hanya habis Rp 30 ribu untuk sehari beroperasi. Namun, sejak ada banyak ruas ditutup ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk beli BBM.

“Sejak PPKM Darurat, biaya untuk beli BBM naik. Kalau sebelumnya Rp 30 ribu cukup, sekarang jadi Rp 60 ribu. Yang otomatis mengurangi pendapatan,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Adi Satya (35). PPKM Darurat ini sangat merugikan bagi ojek online. Selain kena omel konsumen, serta borosnya BBM yang berakibat makin banyak pengeluaran, selama PPKM Darurat orderan juga sepi.

Menurutnya, sepinya itu karena keadaan ekonomi masyarakat memang lagi sulit. Sehingga mereka lebih memilih berhemat dengan cara masak sendiri, dari pada beli makanan resto melalui ojeg onlin.

“Ibaratnya mereka punya uang pasti untuk beli sesuatu yang lebih penting. Masyarakat lebih suka masak sendiri dari pada jajan melalui ojek online,” ujarnya.

Firli mengaku, berangkat ngojek mulai Subuh hingga magrib. Seharian penuh beroperasi ia mengaku mendapatkan penghasilan bersih tak menentu. Sekarang kata dia, bisa membawa uang Rp 100 ribu bersih itu sudah bagus.

Baca juga : Tak Ada Penjagaan, Penyekatan Jalan di Kudus Banyak yang Diterobos

“Kalau sebelum ada pandemi dan PPKM Darurat penghasilan saya bisa lebih banyak. Kalau sekarang antara Rp 60 ribu sampai 100 ribu sehari,” bebernya.

Dia berharap, keadaan bisa normal kayak sedia kala. Tidak ada pandemi Covid – 19. Ekonomi masyarakat bangkit lagi. Serta tidak ada penyeketan jalan. “Semoga saja pandemi berakhir dan orderan bisa banyak lagi,” harapnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER