BETANEWS.ID, KUDUS – Di belakang rumah warga Desa Undaan Tengah RT 4 RW 1, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, terlihat seorang pria tampak memegang tatah dan palu. Kemudian ia menancapkan tatah tersebut ke kayu yang ditempel dengan gambar wayang dan nantinya dijadikan sebuah hiasan dinding. Pria tersebut adalah Moh Amin (42), pengrajin ukir kayu.
Sembari melanjutkan pekerjaannya, pria yang akrab disapa Amin itu bersedia berbagi informasi tentang seni ukirnya. Dia mengatakan, memulai merintis usaha tersebut sejak 2011. Kini, ia mampu membuat beragam ukiran berbahan kayu sesuai pesanan pelanggan. Mulai dari gebyok, hiasan dinding, gombol, relief, dan lainnya.

“Yang terpenting seni ukir kayu, insyaallah bisa semua. Saya juga menerima pemesanan dengan jenis model apa saja,” beber Amin kepada betanews.id, Rabu (14/7/2021).
Baca juga: Heru Sulap Limbah Kayu Jati Jadi Ukir Wajah 3D yang Bernilai Jual Tinggi
Ia menjelaskan, alasan memilih merintis usaha sendiri, lantaran ingin maju dan berkembang. Selain itu juga dari harga penjualan tidak dipatok dari siapapun. Menurutnya, dari segi pekerjaan tidak ada yang menekan dan tidak terikat dengan orang.
“Dari 1992, saya sudah mulai bekerja di mebelan di Jepara hingga 2001. Kemudian keluar dari Jepara dan masih ikut di mebelan lagi, tapi di area Undaan sampai 2008. Karena sudah jenuh ikut bekerja dengan orang lain, di tahun 2011 saya beranikan diri untuk membuka usaha seni ukir kayu ini,” paparnya.
Dengan ketelatenan dan kerja keras, kini karyanya sudah banyak dipesan orang khususnya di daerah Kudus. Kemudian ia juga bekerja sama dengan pihak mebel, jika ada pengerjaan gebyok ataupun kerjaan lain di bidang ukir. Katanya, pengerjaan ukir tersebut paling tidak membutuhkan waktu dua sampai bulanan, tergantung dari model pesanan dan juga kerumitannya.
Baca juga: Karya Seni Ukir Bagi Turmudzi Terkandung Filosofi dan Tersirat Doa
“Kalau untuk harga hiasan dinding mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 juta tergantung besar kecil ukuran dan kerumitan, gombol dari Rp 7 juta hingga Rp 10 juta. Sedangkan untuk gebyok mulai Rp 2 juta hingga Rp 50 juta,” rincinya.
Kendala yang dialami saat ini, lanjutnya, tidak ada bahan baku yang tersedia. Namun jika ada pemesanan plus bahan, ia layani. Menurutnya, produksi seni ukir kayu yang ia miliki itu kebanyakan bahan dari pelanggan.
“Harapan kedepan, semoga tambah ramai. Rencana ingin menambah alat berupa mesin, agar memudahkan dalam pekerjaan,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

