BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria paruh baya tampak duduk di kemudi angkot warna ungu yang terparkir di Jalan Loekmonohadi, tepatnya di depan RSUD Kudus. Ada beberapa angkot yang sedang menunggu penumpang di tempat tersebut, dan kebanyakan masih kosong. Pria dibelakang kemudi tersebut yakni Muhdori.
Muhdori menuturkan, sejak ada pandemi, kehidupan sopir angkutan kota (angkot) di Kudus sangat miris. Penumpang nyaris tidak ada, penghasilan pun turun drastis. Bahkan, ia harus menggadaikan sertifikat tanah agar keluarganya bisa tetap makan.

“Penumpang sepi. Penghasilan turun drastis. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga ya gali lubang tutup lubang. Saya itu sampai pinjam uang Rp 25 juta untuk makan, dengan jaminan sertifikat rumah,” ujar Muhdori kepada Betanews, Rabu (28/7/2021).
Utang tersebut, kata Muhdori, akan diangsur selama tiga tahun, dengan besaran angsuran tiap bulannya Rp 1.195.000. Namun dengan adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), ia tidak bisa leluasa narik penumpang sebab ada penyekatan jalan.
Baca berita selengkapnya di: 2 Bulan Tutup, Pelaku Wisata di Kudus Kibarkan Bendera Putih Tanda Menyerah
“Penyekatan ini membuat sopir angkot di Kudus makin susah. Penumpang makin sepi. Sebab angkot harus melalui jalur yang tidak semestinya,” bebernya.
Dia mengaku, kalau dulu sehari bisa membawa pulang Rp 100 ribu. Penghasilan tersebut sudah terpotong beli bahan bakar minyak (BBM) dan uang setoran ke pemilik angkot. Namun sekarang, seharian narik paling hanya bisa mendapatkan uang bersih antara Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu.
“Penghasilan tersebut dalam waktu sebulan bisa untuk mengangsur utangnya. Tapi kalau uang buat bayar utang, kami akan kelaparan. Bingung saya di situ,” ungkapnya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh sopir angkot lainnya yakni Muhammad Yasin. Sopir angkot jurusan Terminal Jati-Pasar Bareng Kudus itu mengatakan, sejak ada pandemi dan banyak penyekatan jalan, penghasilannya turun drastis. Bahkan untuk membayar setoran ia mengaku kesusahan.
“Dulu setoran angkot sehari Rp 70 ribu itu ringan. Sekarang setoran turun jadi Rp 30 ribu terasa berat. Bayar setoran saja kesusahan apalagi uang untuk cukupi kebutuhan keluarga,” ujar pria yang akrab disapa Yasin itu.
Dia mengaku, saat ini hasil dari sopir angkot tak mampu untuk cukupi kebutuhan keluarga. Oleh sebab itu, untuk menambal kebutuhan keluarga, ia harus utanguang Rp 5 juta dengan jaminan surat motor.
“Lha gimana lagi kebutuhan banyak, penghasilan tidak ada. Saya juga masih punya anak sekolah juga. Jalan keluarnya ya utang. Kalau nanti ada rejeki lebih, utang saya bayar,” ungkapnya.
Baca juga: Jeritan Pedagang Taman Bojana: ‘Sudahi Penyekatan, Saya Butuh Hidup Pak Hartopo’
Dia mengatakan, selama pandemi ia dan rekan-rekannya itu sudah hidup prihatin. Makan jarang jajan di warung, melainkan menunggu ada dermawan yang memberi nasi.
“Selama pandemi banyak orang lewat yang memberi nasi. Namun, gegara nunggu pemberian itu saya pernah kelaparan. Sebab dari pagi hingga sore tidak ada orang yang beri nasi,” ungkapnya.
Dia berharap pandemi berakhir, agar penumpang bisa banyak lagi seperti sedia kala. Keadaan bisa normal kembali. Sekolah dibuka, serta penyekatan jalan itu sebaiknya bisa dibuka.
“Kalau penyekatan dibuka, kan banyak para bakul dari lain daerah yang belanja di Pasar Kliwon. Sehingga mereka juga akan naik angkot,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

