31 C
Kudus
Rabu, Desember 8, 2021
spot_img
BerandaKisahDicibir Tetangga Lulusan...

Dicibir Tetangga Lulusan S1 Kok Jualan, Fida Buktikan Bisa Sukses dari Bisnis Kuliner

BETANEWS.ID, KUDUS – Di outlet yang berada di tepi Jalan Taman Krida nomor 85 terlihat dua orang wanita sedang meracik sayuran dalam piring. Sedangkan seorang wanita lain sedang melayani pembeli yang datang dan juga mengecek orderan masuk di aplikasi Grab. Ia adalah Rofida Wijayanti (23), Penjual panganan buntel (Pantel).

Seusai melayani pembeli, Fida begitu ia kerap disapa bersedia berbagi informasi tentang kisah awal penjualannya. Dia mengatakan, saat ia masih proses dalam pembelajaran di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, terlintas pemikiran untuk menjadi wirausahawan. Namun, belum tahu usaha apa yang tepat. Sementara ia masih belajar di pergutuan tinggi itu, ia juga meluangkan waktunya dengan mengajar les privat siswa sekolah dasar (SD) dan juga sekolah menengah pertama (SMP).

Makanan Pantel yang sudah siap diberikan ke pembeli. Foto: Kaerul Umam.

“Menjadi seorang pengajar les privat itu sejak semester 3 di UNS Solo, sampai lulus kuliah dan beralih di Kudus selama kurang lebih 3 hingga 4 bulan. Kemudian sejak pandemi Maret 2020, dari anak sekolah yang mulai tidak masuk sekolah jadi les privat mulai tidak efektif,” bebernya kepada betanews.id, Senin (12/7/2021).

- Ads Banner -

Baca juga: Tak Suka Sayur? Habis Makan Pantel Ini Pasti Langsung Suka

Kemudian, dengan tidak adanya aktivitas les privat, ia mulai berpikir untuk merintis usaha. Ia yang hobi dengan makanan mempunyai pemikiran untuk usaha di bidang kuliner. Sejak Februari 2020 ia mulai dengan usaha kuliner dengan sistem cash on delivery (COD). Dari yang sepekan hanya ada satu pesanan saja, hingga sepekan ada 5 kali pemesanan, jadi alasan utama ia menekuni usaha tersebut.

“Saat awal-awal merintis usaha ini, orang tua tidak setuju. Karena keinginan dari orang tua sebenarnya disuruh untuk mendaftar di perkantoran maupun daftar jadi PNS. Seiring berjalannya waktu, saya memberikan pemahaman kepada orang tua saya, supaya bisa mengerti dan bahkan menyetujui saya terjun di usaha ini,” papar warga Desa Getas Pejaten RT 4 RW 2, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tersebut.

Tak hanya orang tua, lanjutnya, tetangga pun ikut mencibir. Lantaran di lingkungan masyarakat yang kebanyakan lulusan SMA sederajat sudah bekerja di perusahaan. Namun, ia yang lulusan S1 malah berjualan yang tak jelas hasilnya berapa. Hal tersebut tidak ditanggapi dengan serius. Namun ia memberikan bukti pencapaiannya, yang kini sudah memiliki 2 orang karyawan di usahanya tersebut.

Baca juga: Pernah 13 Tahun Tekuni Usaha Tekstil, Ini Kisah Sofil yang Sekarang Jualan Sempol Khas Malang

“Karena di sekeliling saya kebanyakan lulusan SMA dan sudah bekerja di perusahaan, saya diomongin tetangga langsung bilang ke orang tua saya. Lulusan S1 kok hanya berjualan, tidak sekolah juga bisa berjualan, kurang lebihnya seperti itu. Namun saya hanya diam dan membuktikan bahwa omongan tersebut sudah tidak berarti lagi bagi saya,” katanya di outlet yang buka mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB itu.

Berjualan sayur yang dibungkus atau yang disebut spring roll khas Vietnam itu, aslinya hanya sayur fresh tanpa ada bumbu di topingnya. Masalahnya, orang Indonesia tidak biasa. Makanya, ia mengkombnasikannya  dengan pemberian bumbu untuk topingnya.

“Kini penjualan Pantel memiliki pasar yang bagus. Bahkan di masa pandemi ini, penjualan stabil. Lantaran banyak orang yang membutuhkan makanan sehat,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
70,075PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler