31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Akibat PPKM Darurat, Penjualan Susu Moeria Anjlok Hingga Dibagikan Gratis dan Diberikan Lagi ke Sapi

BETANEWS.ID, KUDUS – Pandemi dan kebijakan PPKM Darurat jadi permasalahan besar bagi usaha Susu Moeria, yang berada di Jalan Pemuda, Kelurahan Panjunan, Kabupaten Kudus. Sejak dirintis pada tahun 1938, produsen susu yang sudah ada pada masa kolonial belanda tersebut, tahun 2020 dan 2021 merupakan masa tersulit bagi Susu Moeria. Penjualan turun drastis, susu sisa hingga dibagikan geratis, dan diberikan lagi ke sapi.

Owner Susu Moeria Feliciana Nathali Yuwono (30) mengatakan, sejak adanya pandemi Covid – 19, penjualan Susu Moeria turun drastis. Dari yang sehari mampu menjual 800 liter susu, turun menjadi 400 liter. Ditambah lagi dengan adanya PPKM Darurat se-Jawa dan Bali, yang di dalamnya ada larangan, resto, kafe dan warung tak boleh melayani makan di tempat.

Terimbas PPKM Darurat, Produsen Susu Moeria terpaksa harus jualan di pinggir jalan. Foto: Rabu Sipan.

Baca juga : Keluh Owner Susu Moeria Terimbas Pandemi, Lini Usaha Food Court Tutup dan Sempat Nol Transaksi

-Advertisement-

“Selama PPKM Darurat, penjualan makin drop. Penjualan susu di masa pandemi yang hanya 400 liter sehari turun lagi jadi 100 liter sehari,” ujar perempuan yang akrab disapa Felicia kepada Betanews, beberapa hari yang lalu.

Felicia mengaku, usaha yang bergerak di bidang Food and Beverages (FnB) ini, pemasukan utamanya adalah 70 persen dari konsumen yang makan di tempat. Kalau harus take away berarti marketnya tinggal 30 persen.

“Saat PPKM Darurat kan ada penutupan ruas jalan, termasuk jalan utama menuju Susu Moeria. Ya sudah, penjualan makin anjlok,” bebernya sembari menata letak kaca matanya.

Dia menuturkan, usaha keluarga dari kakek buyutnya itu berbeda dengan usaha lain. Maksutnya, Kalau usaha lain saat penjualan turun, mereka bisa mengurangi produksi, dengan pengurangan bahan baku. Namun hal itu tidak bisa untuk usaha Susu Moeria, sebab bahan bakunya berasal dari makhluk hidup yakni sapi.

“Ya, karena itulah kami tidak bisa mengurangi bahan baku. Susu sapi tetap harus diperah setiap hari. Karena itu berkaitan dengan kesehatan sapi, serta produktivitas sapi ke depannya,” ungkapnya.

Felicia mengatakan, Susu Moeria memang dari dulu bahan bakunya dari sapi yang diternak sendiri. Saat ini Susu Moeria punya sekitar 125 ekor sapi, tapi yang produksi ada saparuhnya karena memang dibikin sistem bergilir agar produksinya tak terputus. Menurutnya, dari setiap ekor sapi, biasanya mampu menghasilkan delapan sampai 10 liter susu setiap harinya.

“Jadi setiap hari kami ada pasokan 500 liter susu murni. Sedangkan selama PPKM Darurat kami hanya mampu menjual 100 liter saja, otomatis sisa dan kami merugi,” tandasnya.

Baca juga : Demi Tutupi Biaya Operasional, Susu Moeria Harus Rela Jualan di Tepi Jalan

Sedangkan, lanjutnya, sajian Susu Moeria itu tanpa bahan pengawet, sehingga tidak mampu bertahan lama. Menurutnya, agar tidak terbuang percuma, susu yang tak terjual itu pun sering dibagikan gratis. Tak jarang juga diberikan lagi ke sapi untuk campuran pakan, tentunya dengan pengolahan pakan dan treatment khusus.

“Itu pun tidak bisa setiap hari. Eneg juga kan sapinya. Pokoknya kalau susu bisa kita olah, ya kita olah. Kita bagikan, ya kita bagikan. Kalau memang harus diberikan ke sapi lagi, ya kita berikan. Pokoknya bikin mumet PPKM Darurat ini,” tandas Felicia yang berharap PPKM Darurat tak diperpanjang.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER