BETANEWS.ID, KUDUS – Di dalam ruangan dapur sebuah rumah di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus tampak seorang perempuan paruh baya sedang sibuk. Sesekali menyeka keringat, ia terlihat mengaduk adonan kerupuk. Sedangkan di depan rumahnya, krecek, kerupuk berwarna coklat bening dijemur di atas terpal. Krecek tersebut adalah kerupuk terasi Mardliya yang bikin penikmatnya enggan untuk berhenti memakannya.
Pemilik kerupuk terasi Mardliya, yakni Khumayah (54) sudi berbagi penjelasan tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, kerupuk terasi Mardliya yang diproduksinya itu rasanya enak dan gurih. Selain itu, menurut para pelanggan dia, rasa enaknya itu bikin ketagihan. Serta saat memakannya itu tidak mau berhenti dan ingin makan terus.

Baca juga : Kerupuk Sadariyah yang Gurih Ini Penjualannya Melejit, Pelanggan dari Berbagi Daerah
“Banyak pelanggan yang bilang rasa kerupuk terasi kami itu enak dan gurih. Enaknya bikin tak mau berhenti. Kalau berhenti makannya malah jadi tidak enak,” ujar Khumayah kepada Betanews.id, Senin (26/4/2021).
Khumayah mengatakan, mulai produksi kerupuk terasi sejak 2002. Cara dan resep pembuatan kerupuk terasi tersebut didapatkan dari ibunya. Ia mengaku, sejak dulu hingga sekarang kerupuk terasi Mardliya pembuatannya masih manual. Sehingga produksinya tidak bisa banyak.
“Saya produksinya masih manual. Sehari palingan hanya mampu produksi kerupuk terasi 10 kilogram. Itu saja produksinya dua kali, sebab kalau langsung sekali tanganku tidak kuat mengaduk adonannya,” beber ibu dari enam anak tersebut.
Dia mengatakan, kerupuk terasi Mardliya dijual dalam dua jenis, krecek dan kerupuk. Untuk yang krecek, kata dia, dijual dalam dua kemasan, yakni seperempat kilogram yang dijual dengan harga Rp 5.500 dan Rp 11 ribu untuk kemasan setengah kilogram. Sedangkan kerupuk terasi Mardliya dijual dengan harga Rp 3 ribu per kemasan.
“Harga Rp 3 ribu itu pembelian satu bungkus. Kalau beli dua bungkus harganya Rp 5 ribu,” jelasnya.
Dia menuturkan, kerupuk terasi Mardliya selama ini banyak peminatnya. Selain para tetangga, orang lain desa, para perangkat desa, para kiai dan polisi serta semua kalangan banyak yang suka. Kalau dulu tuturnya, semasa masih muda sering setor ke warung – warung. Namun, sekarang tidak lagi karena faktor usia dan raga yang sudah menua.
“Kerupuk terasi Mardliya itu banyak yang suka. Apalagi menjelang Lebaran, pesanan banyak sekali. Yang saya bikin ini dan krecek yang saya jemur itu sudah dipesan semua,” bebernya.
Baca juga : Kerupuk Nasi Aneka Rasa dari Mumbul Food, Gurihnya Terasa dan Tanpa Pengawet
Dia berharap, ke depan usaha tersebut anak turunnya ada yang meneruskan, serta produksinya bisa pakai mesin. Sehingga kalau ada pesanan banyak bisa melayani. Tidak seperti sekarang, produksi mentok hanya di 10 kilogram.
“Saya berharap kerupuk terasi Mardliya makin diminati dan makin laris. Semoga ke depan bisa produksi pakai alat atau mesin. Sehingga bisa melayani pesanan dalam jumlah banyak,” harapnya.
Editor : Kholistiono

