BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat sedang memotong plastik untuk kemasan produk di sebuah rumah Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Setelah plastik dipotong sesuai ukuran, selanjutnya ia mengambil kerupuk dalam wadah plastik besar untuk dipindahkan dalam kemasan itu. Setelah selesai mengemas, ia melanjutkan dengan menempelkan stiker merek produknya itu. Dia adalah Hasan Fauzi (33), Pemilik Usaha Kerupuk Sadariyah.
Ditemui, Selasa (30/03/2021) Fauzi bersedia menjelaskan usaha turun-temurun yang kini makin melejit di pasaran itu. Saat mewarisi bisnis Kerupuk Sadariyah dari ibunya, bisnis itu belumlah sebesar sekarang. Waktu itu, ia nekat ambil utang dari bank senila Rp 50 juta untuk mengembangkan usaha.

“Awalnya bisnis kerupuk sadariyah ini merupakan bisnis kecil-kecilan ibu saya. Lalu saya utang bank Rp 50 juta untuk fokus mengelola bisnis ibu saya ini,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Pasangan Muda Pemilik MB Store yang Dipertemukan Karena Tekuni Usaha Sama
Fauzi mengawali branding ulang kerupuknya dengan memberikan kemasan plastik yang tebal, lalu stiker yang manrik, hingga mengurus ijin PIRT. Itu semua dilakukan dengan tetap mempertahankan resep dan cara memasak kripik sandariah.
“Yang membuat Kerupuk Sadariyah buatan saya digemari karena rasanya yang jadul. Itu merupakan hasil proses pengorengan yang masih menggunakan kayu bakar,” tambahnya.
Memulai bisnis dengan utang bank, membuat fauzi semakin serius untuk mendalami bisnisnya. Mulai dari menawarkan produknya dari toko ke toko di Kudus, Jawa tengah, hingga ke luar daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, semua ia lakukan sendiri.
“Saya menjual Kerupuk Sadariyah dengan menawarkan satu per satu mulai dari toko oleh-oleh, rumah makan, dan toko grosir makanan ringan. Itu saya lakukan sendiri dengan naik mobil sekaligus membawa barangnya untuk saya tawarkan,” tambah Fauzi.
Baca juga: Kisah Sukses Siti Jualan Snack yang Kini Tembus 63 Toko Modern di Pati
Dengan usaha yang sudah ia rintis sejak tahun 2010, kini Fauzi bisa mempunyai rumah dan beberpa unit mobil. Serta tiap bulannya ia bisa menghasilkan omzet Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.
“Kalau sebelum pandemi bisa sampai Rp 20 juta, tapi karena pandemi sekarang turun drastis, kira kira sekarang sebulan cuma Rp 5 juta,” jelasnya.
Kini setelah 11 tahun mengeluti bisnis kerupuk sadariyah, ia bisa membuka lapangan pekerjaan dengan memperkejakan karyawan sebanyak lima orang.
“Setiap bulan saya bisa memproduksi hingga 1 ton singkong. Itu produksi dua sampai tiga kali seminggu, masing-masing 50 kilogram,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

