BETANEWS.ID, KUDUS – Di halaman depan dan samping sebuah rumah di tepi Jalan Mayor Kosmanto, Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, tampak kolam terpal. Di dalam kolam itu, puluhan ribu ikan kecil tampak berkerumun di bawah pancuran air. Di samping kolam, terlihat seorang pria mengenakan kaus oblong hitam sedang memberi makan ikan tersebut. Ia adalah Ahmad Rozikan (43) peternak ikan koi.
Seusai memberi makan ikan, pria yang akrab disapa Rozikan itu sudi berbagi kisah tentang ternak ikan koi tersebut. Dia mengatakan, mulai merintis pembibitan sejak 2013. Sebenarnya dari kecil ia tidak begitu suka dengan binatang. Namun, keadaan lah yang membawanya ke dunia ikan koi.

“Sebenarnya ternak ikan koi dulu saya jadikan alibi biar tidak mencolok saat mengawasi para tukang batu. Sebab, kalau saya langsung mengawasi para tukang bekerja itu rikuh. Oleh sebab itu saya ternak ikan koi di lokasi pekarangan yang saya bangun rumah,” ujar Rozikan kepada Betanews.id, Kamis (22/10/2020).
Baca juga: Untung Gede dari Budi Daya Ikan Koi, Sebulan Rozikan Bisa Jual 10 Ribu Bibit
Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu menuturkan, pangsa pasar ikan koi ini stabil, tidak pernah booming tapi juga tidak pernah tenggelam. Lantaran, peminatnya banyak dari yang untuk dijual lagi ataupun untuk hobi. Namun, kata dia, untuk bisa ternak ikan koi memang butuh perjuangan karena tidak semudah membalikan telapak tangan.
Kegagalan yang dialami, tuturnya, tidak hanya sekali tapi berulang kali. Rozikan lantas menceritakan pembibitan awal yang selalu gagal saat telah bertelur karena tidak menetas. Saat itu, dia mengaku mencari tahu sebabnya. Bahkan nasihat teman-teman sesama peternak ikan koi sudah dilakukannya, tapi hasilnya nihil.
“Saat itu saya gagal sampai 10 kali. Saya harus gonta-ganti indukan sampai beberapa kali, tapi tidak mengubah hasil. Hingga saya bisa menemukan pangkal masalahnya. Yakni indukannya belum terlalu cukup umur. Jadi telurnya itu tidak bisa menetas,” bebernya.
Tak berhenti di situ, setelah telur bisa menetas buraya atau anak ikan koi umur tiga hari sampai sepekan itu malah ludes mati semua. Kata dia, hal itu berulang hingga delapan kali. Menurutnya, permasalahan yang menjadikan buraya ikan koi itu mati sebab ia belum tahu pakannya. Karena setiap dikasih makan pur (ikan yang dilembutkan) ratusan ribu buraya itu ludes mati semua.
“Saat itu saya pusing. Tapi saya berpikir terus cari pakan buraya ikan koi. Hingga tidak sengaja saya menemukan telur ayam di pekarangan. Saat itu pikiran saya, mungkin ini pakan buraya ikan koi. Kemudian telur itu saya pecah dan saya aduk-aduk di gelas, terus saya kasih makan ke buraya ikan koi. Alhamdulillah, ternyata telur itu memang pakan buraya ikan koi,” tandasnya.
Baca juga: Berawal Iseng, Kini Deni Tekuni Bisnis Ikan Predator Setelah Tau Keuntungannya
“Dari kegagalan-kegagalan yang saya alami itu, saya mengeluarkan modal hingga Rp 70 juta,” tambah pria yang gemar mengenakan topi itu.
Dia mengatakan, saat ini punya 15 ekor indukan ikan koi berbagai jenis. Dengan 15 indukan tersebut, tiap tiga pekan ia bisa menetaskan ratusan ribu telur. Setelah umur sebulan ia jual kepada para peternak dan bakul ikan hias. Menurutnya, satu ekor ikan koi umur satu bulan dihargai Rp 1 ribu per ekor.
“Saya menjual anakan ikan koi itu kalau sudah umur sebulan saat sudah dikasih makan pur. Harganya seribu rupiah per ekor dengan minimal pembelian seribu,” ujarnya.
Menurutnya, sampai saat ini pelanggannya yang menjalankan pembesaran ikan koi di Kudus saja. Dalam sebulan ia mengaku bisa menjual 10 ribu ekor anakan koi.
“Saya bersyukur meski awalnya banyak mengalami kegagalan, tapi karena tekun dan telaten serta tidak putus asa, akhirnya ada jalan sukses ternak ikan koi. Karena saya berpegang pada manjadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil atau sukses,” tuntasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

