31 C
Kudus
Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
spot_img
BerandaKISAHRela Bantu Bibinya...

Rela Bantu Bibinya dan Tak Dibayar, Kini Joko Sukses Usaha Kerupuk Rambak

BETANEWS.ID, KUDUS – Di pekarangan sebuah rumah di Dukuh Jetak Kembang, Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tampak tiga pria sedang sibuk. Mereka terlihat membersihkan kulit kerbau yang direndam. Sedangkan di sampingnya tampak seorang pria bertelanjang dada sedang mengecek krecek yang terbuat kulit kerbau. Pria tersebut yakni Joko Mulyono (48) pemilik usaha produksi kerupuk rambak.

Seusai melakukan aktivitasnya, pria yang akrab diapa Joko itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, mulai merintis usaha produksi kerupuk rambak sejak 2002. Namun sebelum merintis usaha, ia terlebih dulu ikut bantu bibinya yang punya usaha serupa, selama tiga tahun.

Proses pembakaran kulit kerbau untuk dibuat kerupuk rambak. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Tak Patah Semangat Berkali-kali Bangkrut, Ardi Temukan Kesuksesan di Resto Ulam Sari

- Ads Banner -

“Saya ikut bibi ketika itu rela tidak dibayar. Saya hanya ingin latihan agar bisa bikin kerupuk rambak. Ternyata bibi saya malah memutuskan untuk tidak melanjutkan usahanya, karena alasan keluarga,” ujar Joko kepada betanews.id, Jumat (2/10/2020).

Dia mengatakan, usai bibinya tidak melanjutkan usahanya, ia pun memutuskan untuk membeli peralatan untuk produksi kerupuk rambak. Dia mengaku, memutuskan membeli peralatan dan produksi kerupuk rambak itu, karena tahu prospek usaha kerupuk rambak sangat bagus, dan peminatnya juga sangat banyak.

Sebenarnya, lanjutnya, ia memulai produksi kerupuk rambak itu sejak 1996. Namun, kata dia, setelah berjalan dua tahun usahanya itu berhenti akibat krisis moneter 1998. Dia mengaku, keputusan berhenti produksi itu dikarenakan bahan utama pembuatan kerupuk rambak harganya tidak stabil.

“Sewaktu krisis, harga kulit kerbau melambung tinggi. Sehingga kalau saya paksakan produksi akan rugi, sebab susah jualnya,” bebernya.

Setelah krisis usai dan harga bahan baku kerupuk rambak mulai stabil, pada tahun 2002 ia memutuskan untuk produksi kerupuk rambak lagi. Sejak memutuskan produksi kerupuk rambak lagi, menurutnya, dari mulut ke mulut pelanggannya pun mulai banyak.

Bahkan, lanjutnya, kerupuk rambaknya itu laris manis. Pelanggannya saat itu tidak hanya orang Kudus, tapi banyak juga permintaan dari lain daerah. Di antaranya, Jepara, Demak, Blora, Rembang, Jakarta dan Tangerang. Namun kata dia, itu pada zaman dulu, kalau sekarang dia hanya melayani pelanggan di Kudus saja.

“Saat ini saya memang fokus permintaan bakul dalam Kudus saja. Sebab kalau melayani permintaan luar kota itu kami terkendala bahan kulit kerbaunya. Sekarang agak susah. Apalagi pas musim orang nikahan,” tuturnya.

Baca juga : Dari Ngontrak Hingga Punya Rumah dan Mobil, Kisah Inspiratif Safik di Usaha Sofa

Dia mengatakan, kerupuk rambaknya dijual dengan harga Rp 230 ribu per kilogram. Dia menyediakan dalam kemasan seperempat kilogram dengan harga Rp 60 ribu. Dia mengaku, sekali produksi kerupuk rambak bisa menghabiskan lima kwintal kulit kerbau kering. Lima kwintal kulit kerbau itu bisa jadi kerupuk rambak sebanyak tiga kwintal.

“Saya berharap bahan kerupuk rambak itu selalu ada, harganya juga stabil. Biar produksi kami tetap lancar untuk memenuhi permintaan para pelanggan,” harapnya.

Editor : Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

32,381FansSuka
15,327PengikutMengikuti
4,327PengikutMengikuti
90,084PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler